Home » kekisah » Mukena Terbang

Mukena Terbang


akhwat-21

***

Malam berlalu hening tanpa suara. Ceracau binatang malam yang biasanya mengalun meninabobokan penghuni kampung ini pun lenyap. Desau-desau angin yang menggoyangkan dedaunan pun tak ada yang berhembus. Maemunah masih tercenung di atas dahan pohon jengkol yang banyak tumbuh di kampung ini. Mungkin ini sebabnya kampung ini dinamai Kampung Jengkol. Sebuah kampung di pinggiran Tangerang, tak jauh dari daerah Bintaro.

Tangis Mae, panggilan akrab Maemunah tanpa suara dan tanpa air mata. Air matanya tak lagi bersisa. Wajah Mae sudah tak berbentuk lagi. Matanya tinggal rongga hitam bernanah yang mengeluarkan bau busuk. Sedangkan hidung dan mulutnya sudah tak bisa lagi dipisahkan. Hanya liang yang terlihat dengan beberapa gigi yang tersisa. Namun dari wajahnya bisa terlihat kalau dia sudah putus asa. Mukena yang melekat di tubuhnya berjuntai gontai.

“Aku sudah lelah ya Allaah,” bisiknya , “bebaskan aku dari kutukan ini.”

***

Wulan berjalan terburu-buru. Langkahnya tersaruk-saruk kerikil dan batu yang bertaburan di jalan kampung yang tak pernah terguyur aspal.  Di pundaknya tergantung ransel lusuh berisikan buku Pengantar Akuntansi yang tebalnya mengalahkan tebal betisnya. Baru setengah tahun yang lalu Wulan meninggalkan desanya di pinggiran Yogyakarta untuk menuntut ilmu di sebuah sekolah kedinasan. Ancaman drop out di setiap semester rupanya telah mengalahkan ketakutannya atas segala jenis hantu. Dan malam ini dia menghabiskan sebagian malamnya di kamar kos Dewi untuk belajar akuntansi, sebuah ilmu baru baginya setelah dua tahun sibuk bergelut dengan rumus-rumus fisika dan deret unsur-unsur kimia.

Sampai di kosnya, Wulan mendapati teman-teman kosnya telah terlelap tdipeluk mimpi. Rumah kos milik Haji Sanian yang ditempatinya enam bulan terakhir ini terletak di pinggir empang tak jauh dari kampusnya. Di belakang rumah kos ini dikelilingi pohon jengkol dan pohon kecapi yang rimbun memayungi dua makam orang tua Haji Sanian. Kamar Wulan yang sempit terletak di pojok rumah berimpitan dengan kamar mandi. Di depan kamar bergelantungan segala jenis jemuran, barang-barang pribadi perempuan. Sesampainya di kamar, Wulan langsung mengempaskan tubuhnya di kasur kapuk yang sudah lapuk. Terlelap dia, tanpa sempat menunaikan shalat Isya terlebih dahulu.

***

Maemunah  termangu heran di depan jendela kamar ibunya malam itu. Matanya menjelajah isi kamar sang ibu dari balik kaca jendela yang tertutup korden dengan tidak sempurna. Ibunya tampak duduk bersimpuh dengan mengenakan mukena lusuh. Bukan sembahyang yang dilakukannya. Mulut ibunya berkomat-kamit di depan tungku yang mengeluarkan asap kemenyan yang memerihkan mata dan menyesakkan dada.

Sudah lebih sebulan ini Mae melihat tingkah laku ganjil ibunya. Namun dia tak sempat bertanya lebih lanjut kepadanya. Toko kelontong di rumahnya kian ramai saja sekarang yang membuat ibunya begitu sibuk mengurusi arus keluar masuknya uang sehingga waktu sekadar untuk bercengkerama dengan anaknya menjadi semakin berkurang. Ditambah lagi dengan kesibukan kuliah Mae yang semakin menjadi.

Larisnya toko kelontong ini agak mencurigakan baginya. Baru dibuka beberapa bulan selepas ayah Mae meninggal, kini telah mengalahkan warung-warung di komplek perumahan, bahkan beberapa minimarket kalah ramai.

Mae terjenggirat dari lamunannya, saat pintu kamar ibunya tiba-tiba berderit.

Ngapain lu ngejogrok di sini, Mae?’ tanya ibunya, sambil melepas mukena yang membungkus tubuhnya.

“Ka..kagak nape-nape, Nyak. Aye barusan dari kamar mandi,” jawab Mae terbata-bata.

“Ya udeh, sono masuk kamar terusin belajarnya,” kata ibunya sambil menggantungkam mukena lusuhnya di jemuran.

Mae pun bergegas ke kamarnya. Diktat kuliah yang sudah digelarnya di meja dari tadi tak juga masuk ke otaknya yang tengah sesak dengan syak wasangka akan tingkah laku ganjil ibunya. Rasa penasaran yang membuncah itu akhirnya tumpah. Perlahan Mae keluar dari kamarnya, lantas berjalan berjingkat ke depan kamar ibunya. Tangannya gemetar saat meraih mukena lusuh yang tergantung di jemuran. Perlahan dia masukkan tubuhnya ke dalam mukena itu, hingga tinggal tapak tangan dan mukanya saja yang terbuka.

Sesaat tak ada hal aneh yang dirasanya. Hanya ada hawa dingin yang perlahan merasuk menerobos pori-pori kulitnya. Lantas tubuhnya terasa seringan kapas. Kakinya dirasanya mulai meninggalkan ubin dingin yang dipijaknya. Bulu kuduk dan segala jenis rambut di tubuhnya meremang, saat tubuhnya sedikit goyang ditiup angin. Lalu jeritnya tertahan saat segugus angin kencang menabrak tubuhnya. Mae terlempar ke atas dengan kencang, menempus atap rumahnya yang terbuat dari asbes. Suara derak yang kencang membangunkan ibunya yang sudah terlelap. Dia terperanjat melihat atap rumahnya yang berlubang menganga dan melihat mukenanya berkelebat di gelapnya langit malam.

“Mae…!!!” jeritnya memekakkan isi rumah.

Kejadian lima tahun itu masih membekas jelas di benak Mae. Tangisnya terdengar merintih-rintih, bertepatan dengan turunnya hujan rintik-rintik yang membasahi rimbun daun pohon jengkol. Di belakang rumah kos milik Haji Sanian.

Tiba-tiba terlihat kilat berkelebat. Angin berhembus kencang. Malam itu malam Jumat Kliwon bertepatan dengan tanggal 13 September, malam yang diyakini sebagai malam keramat. Mae berpegang kuat pada dahan pohon jengkol menahan serbuan angin. Dia terus berusaha, namun akhirnya dia terhempas jatuh ke tanah, dan mukena yang dikenakannya lepas terbang mengangkasa.

Di sepertiga malam terakhir itu, doa Ibu Maemunah yang telah bertaubat didengar Sang Pencipta.

 

***

“Astaghfirullaah,” pekik Wulan tertahan, “aku belum shalat Isya.”

Wulan langsung bangkit dari ranjang bututnya, Matanya melihat jarum jam dinding yang sudah menancap di angka tiga dan  kemudian mengambil  air wudlu. Dibukanya ransel kuliahnya untuk mencari mukenanya. Wulan biasa membawa mukenanya dalam tas ketika berpergian, agar dapat menunaikan shalat di mana saja. Bolak-balik dia mengaduk seluruh isi tasnya.

“Sial, mukenaku tertinggal di kos Dewi,” pikirnya setelah tak jua menemukan mukena satu-satunya itu. Terakhir dia teringat dia pakai saat shalat Maghrib senja tadi. Dia lantas keluar kamar, menengok kamar Novi, tetangga kamarnya. Dari jendela kamarnya dia melihat Novi meringkuk pulas. Rasa iba menggelayuti tangannya yang sudah siap mengetuk pintu kamar Novi. Niat itu akhirnya dia urungkan, saat matanya tertumbuk pada sehelai kain lusuh yang tergantung di jemuran di depan kamarnya.

“Mukena siapa ini?” begitu kata hatinya. Tanpa pikir panjang, dia mulai mengenakan mukena lusuh itu. Tubuhnya terdiam sesaat, saat auratnya sudah tertutup secara sempurna. Ada angin dingin yang menyelusup dalam bulir darahnya yang meremangkan sekujur bulu di tubuhnya. Lalu tubuhnya terasa ringan, dan kakinya mulai terangkat melayang. Nafasnya tercekat saat tubuhnya mulai terayun oleh angin yang datang tiba-tiba. Ketika tiba-tiba angin  berhembus kencang, tubuhnya melayang menabrak dan mengoyak pintu kos yang hanya  terbuat dari tripleks tipis. Lantas tubuhnya melesat menembus langit malam.  Jerit pilunya menggantung di langit dan sebagian melekat di langit-langit kos dan membangunkan seisi kos.

***

Keesokan harinya, sesosok gadis ditemukan tergeletak di bawah pohon jengkol. Di belakang rumah kos milik Haji Sanian.

Mae.

Banjarbaru, Malam Jumat Kliwon, 13 September 2013

Catatan:

Cerita mukena terbang adalah sebuah  urban legend dari daerah Tangerang, yang pernah penulis dengar saat masih kuliah di sebuah kampus di daerah Bintaro. Konon ada seorang wanita yang mempelajari ilmu pesugihan, dengan menggunakan mukena sebagai perantara untuk memperoleh harta yang tidak halal.  Secara kebetulan anak perempuan wanita itu mengenakan mukena tersebut dan tiba-tiba dia terbang dan tubuhnya tidak terlihat dan sangat ringan tertiup angin ke sana- ke mari sehingga  wajah serta tubuhnya hancur karena tertabrak benda-benda yang dilewatinya. 

Nama dan tempat dalam cerita ini adalah fiksi belaka

Cerita ini diikutsertakan dalam tantangan menulis #LegendaHororLokal yang diadakan @alamguntur @indriankoto dan @jualbukusastra

Ilustrasi diperoleh dari sini

12 thoughts on “Mukena Terbang

  1. jadi, bagaimana cara Mae membuka mukena itu? Jika membuka mukena adalah hal yang ‘mudah’, kenapa Mae tak melakukannya sejak dulu?🙂
    *just a thought. Nice story, anyway🙂

      • usulku, ceritain aja kalau meski bisa terbang kemana-mana, si “mukena terbang” ini sebenarnya hanya bisa menampakkan “diri” pada waktu tertentu. jadi, selama ini dia sudah menunggu ada yang “memerlukan” mukena pada -katakanlah- lewat tengah malam. Nah, tentu saja yang perlu mukena jam segitu sangat jarang. Dan kebetulan si wulan ini yang apes, ngambil mukena itu. Oh ya, biar tambah kelihatan sulit, ceritakan aja kalau calon korban baru umurnya mesti sepantaran.🙂

  2. Wuaahh cerita ini pernah aku denger waktu jaman kecil dulu….masi keinget sampe sekarang, krna ada anak tetangga yg hilang terus disangkutpautkan dgn cerita ini. Jadiiiiiiiiiii tatutttttttttt…
    kenapa bisa gitu jg wulannya ?

  3. terima kasih atas ilmu yang di berikan..saya tunggu artikel-artikel selanjutnya🙂 saya ingin berbagi ilmu sedikit mengenai mukena Sebagian besar ulama kita telah bersepakat bahwa busana yang sesuai dengan syarat untuk menutup aurat wanita dalam{Enter}shalat adalah baju kurung beserta kerudung (yang sekarang dikenal dengan mukena) … salah satu trend zaman sekarang yaitu mukena katun jepang ,,ingin Dapat barangnya kualitas top di sini tempatnya GROSIR MUKENA KATUN JEPANG ( http://www.mukenadistro.com )

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s