Home » kekisah » Sebuah Cerita dari Seberang Istana

Sebuah Cerita dari Seberang Istana


1945-Ikada-05b

Aku masih menyeka keringat yang bergerilya di sekujur muka. Memberisihkan sampah di lapangan seluas ini benar-benar menyiksa. Tiba-tiba kulihat seorang kakek tua duduk di bawah pohon sebelahku. Tubuhnya yang renta tampak masih perkasa. Kulit layunya tampak berseri dibalut baju tentara yang sudah sobek di sana-sini dengan tiga lencana di dada kiri . Topi baja diletakkannya di atas rumput tempat duduk. Sadar kuperhatikan, kakek itu melambaikan tangannya kepadaku.

“Sini, anak muda! Aku ingin bercerita.”

DI seberang sana suasana riuh bergelora. Para pembesar negeri bersolek memperingati ulang tahun negeri. Ada yang hikmat, ada pula yang tersenyum basa-basi sambil sesekali mencari kamera televisi. Polisi dan tentara berkeliaran di sana-sini. Menghentikan kendaraan atau pejalan kaki yang coba-coba berani melintas. Tepat saat meriam berdentum tujuh belas kali, aku menepi menuju kakek tua itu.

“Aku masih ingat saat itu, kami berkumpul di tempat ini, yang dulu bernama Lapangan Ikada,” katanya memulai bercerita, sesaat setelah meriam diam.

Aku memperhatikan kata-kata yang meluncur dari mulutnya, sambil menyodorkan sebotol air bekal istriku tadi pagi kepadanya.

“Semua rakyat segala penjuru berkumpul di tempat ini. Berjejal-jejal berbaur dengan pendiri negeri. Semua bergabung memperingati sebulan kelahiran pertiwi. Tanpa jarak. Lapangan ini dikepung tentara Jepang yang belum juga angkat kaki dengan sangkur terhunus dan kendaraan lapis baja.  Namun kami tak takut mati. Pekik merdeka membahana menggetarkan jiwa. Tak seperti di seberang sana. Meriam itu menyalak untuk siapa? Sia-sia.”

Aku manggut-manggut saja menyimak ceritanya. Lalu di sebelahku duduk Wawan, pedagang asongan dan Bendot serta beberapa teman ngamennya duduk di sebelahku.

Kakek tua itu tiba-tiba berdiri. Tubuhnya yang reot dia tegakkan. Matanya tajam menatap istana. Tangannya menghormat bendera yang sedang dikibarkan di istana. Kami pun berdiri serta. Mulutnya lantang menyanyikan Indonesia Raya, sementara dari hulu matanya mengalir air yang membasahi keriput wajahnya.

“Masih jelas terngiang suara Bung Karno yang menggelegar,” ujarnya melanjutkan cerita selepas bendera berkibar perkasa di ujung istana. “Percayalah rakyat kepada Pemerintah RI. Kalau saudara-saudara memang percaya kepada Pemerintah Republik yang akan mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan itu, walaupun dada kami akan dirobek-robek, maka kami tetap akan mempertahankan Negara Republik Indonesia. Maka berilah kepercayaan itu kepada kami dengan cara tunduk kepada perintah-perintah dan tunduk kepada disiplin” *)

“Lalu kami sambut pidato beliau dengan teriakkan “Merdeka!” bertubi-tubi. Lebih kencang dari bunyi meriam yang kau dengar tadi,” ceitanya sambil mengepalkan tangannya.

Semangat kakek itu semakin menyala, saat kami ikut berteriak “Merdeka!”.  Semakin terik mentari, semakin banyak orang datang yang mengerumuni kakek ini.

Di Istana Merdeka, mengalun lagu-lagu perjuangan yang dilantunkan dengan setengah hati. Kakek tua itu kembali berdiri, menyanyikan lagu Maju Tak Gentar mengikuti irama musik dari istana dengan lebih bertenaga.  Kami pun bernyanyi mengikutinya.

“Maju tak gentar, hak kita diserang!”

Tiba-tiba mengalun nada-nada asing dari istana. Sebuah lagu dengan irama yang sumbang di sana-sini.

“Lagu apa ini? Lagu siapa ini?” kakek tua itu berdiri. Kata-katanya meninggi.

Peserta upacara mulai meninggalkan istana, membiarkan pemain musik dan penyanyi menunaikan tugasnya. Sebagian pindah ke tempat kakek tua itu bercerita.  Lambat laun istana pun sepi. Hanya tersisa tentara dan polisi.

Kakek tua itu semakin berapi-api meneruskan ceritanya. Dia tak peduli saat kami mulai tercerai berai, saat tentara dan polisi menyerbu mengusir kami.

Sekilas kulirik topi bajanya yang tergelar di atas rumput hijau.

Bolong bekas tertembus peluru.

—— bekasi, 17 agustus 2013

*) Referensi dan gambar diambil di sini

One thought on “Sebuah Cerita dari Seberang Istana

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s