Home » kekisah » [Berani Cerita #23] Adopsi(al)

[Berani Cerita #23] Adopsi(al)


Romania-1990-An-orphanage-for-incurables

Sudah sepuluh tahun aku menghuni panti asuhan ini. Panti asuhan yang semakin tak terawat. Penghuni panti ini pun semakin banyak. Kamar-kamar panti tak bisa menampung lagi. Aku tidur berenam dalam kamar yang sempit dan pengap. Hanya ada satu ranjang bertingkat dua. Ridwan dan Dinar yang bertubuh kecil tidur di atas, Derry dan Dede tidur di kasur bawah. Sedangkan aku dan Joko tidur beralas tikar di lantai. Mutu makanan panti pun semakin mencemaskan. Kadang kami hanya makan sekali sehari. Tak jarang terjadi perkelahian hanya karena berebut jatah makan.

Aku heran kenapa tak ada dermawan yang mau mengadopsi anak-anak di panti ini. Cerita yang pernah aku dengar, konon setiap keluarga yang mengadopsi anak panti asuhan ini akan mengalami kesialan. Awalnya aku tak percaya. Tapi sudah beberapa anak yang diadopsi kembali lagi ke panti. Ada yang bercerita orang tua asuhnya mati kecelakaan, ada yang rumahnya terbakar dan ada pula yang tiba-tiba jatuh miskin karena usahanya bangkrut. Cerita-cerita itu menyebar seperti asap mengepung kota, hingga tak ada lagi yang mengadopsi kami. Sumbangan dari dermawan juga semakin jarang kami terima.

***

Pagi itu aku dipanggil Pak Usman, kepala panti, di ruang kerjanya.

“Ilham, kamu harus mengucap syukur kepada Allah. Besok ada orang yang ingin mengadopsimu”

Aku tertegun. Kepalaku tertunduk. Pikiranku teringat cerita-cerita buruk itu. Hatiku sebenarnya menolak tapi demi panti dan teman-teman yang lain kuanggukkan kepalaku.

Keesokan harinya aku berdandan rapi dan telah menunggu di ruang tamu panti. Lantas sebuah mobil mewah berhenti. Pak Usman ramah menyambut mereka.

“Selamat datang di panti asuhan kami Bapak dan Ibu Rajasa.”

Aku pun segera berdiri. Memasang senyum termanis dan menyalami Bapak dan Ibu Rajasa. Selepas bersalaman, mereka tampak terkejut. Kemudian mendekatiku dan melihat lebih dekat tahi lalat besar di bawah telinga kiriku.

“Anak kita Pak,” isak lirih Ibu Rajasa tiba-tiba.

Sejenak mereka terdiam dalam pelukan. Aku pun kehilangan kata-kata dan penuh kebingungan saat mereka tiba-tiba memelukku.

“Pak Usman, anak ini akan kami adopsi. Mohon segala surat-suratnya Bapak siapkan. Tiga hari lagi kami akan kembali untuk menjemputnya ke rumah kami.” kata Pak Rajasa setelah puas memelukku.

***

Tiga hari kemudian, aku dan Pak Usman menanti dengan cemas di ruang tamu panti. Hari sudah menjelang senja dan mereka belum juga tiba. Tiba-tiba handphone Pak Usman berdering. Aku masih duduk gelisah saat Pak Usman menerima telepon. Semenit kemudian beliau masuk. Wajahnya memerah sedih, lalu menghampiri dan menepuk pundakku.

“Pak Rajasa dan Ibu kecelakaan saat menuju ke sini.”

—-

396 kata

ilustrasi diambil dari sini

14 thoughts on “[Berani Cerita #23] Adopsi(al)

  1. ada apa dengan anak-anak pantinya? kenapa sial datang bertubi-tubi? oh tuhan, apa salah mereka? *monolog *nggak usah dijawab mas. :p

  2. Kupikir misteri kesialannya bakal terungkap. Ternyata…

    Ceritanya bagus, Om. I like it *senggol tombol like*

  3. tak kirain baca judulnya, maksudnya adopsi semua (all)…tapi koq kurang satu huruf ‘l’…haha dibahas…ternyata bukan itu maksud ceritanya…

  4. Bagus, dari judulnya kirain dia di adopsi dan ketiban sial karena keluarga yg mengadopsinya jahat hehe.. eh justru sebaliknya..

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s