Home » kekisah » Prompt #21: Dendang Tangis

Prompt #21: Dendang Tangis


cry-2546

Malam semakin larut dalam kelam. Hujan menitik perlahan dari ranting-ranting pohon. Herman masih duduk di beranda rumahnya. Kepalanya mendongak ke atas, matanya memejam. Sementara lengannya kukuh memeluk lututnya. Di telinganya tersumbat earphone dan larut dalam alunan nada. Tak berapa lama bibirnya menyunggingkan senyum puas. Lalu dia bangkit berdiri. Earphone di telinganya ia tanggalkan dan bergegas memasuki rumahnya.

“Aku kangen kamu, Nimas,” suara Herman tersendat.

Matanya berembun lagi saat dia menatap foto wanita di meja kamarnya. Tangannya lembut membelai hidung, mata, pipi, kemudian bibir wanita dalam foto itu. Foto itu dia dekap ke lapang dadanya. Herman tak kunjung bisa menutup matanya. Rindunya kepada Nimas telah menjadi hantu yang hadir di tiap relung ingatannya. Dia duduk di ranjangnya, menyumpal kembali kupingnya dengan earphone. Lalu keluar ke beranda. Duduk melipat lututnya. Menikmati dendang di gendang telinganya, dan desau angin gerimis yang menusuk-nusuk kulitnya. Begitu setiap malam, hingga pagi bertandang di depan pintu rumahnya.

**

Nimas buru-buru bangun dari ranjang. Mengenakan pakaian seadanya. Rambutnya yang masih berantakkan disisirnya lekas-lekas. Pipinya dibaluri bedak sedikit tebal untuk menutupi luka lebam yang masih memerah. Sebelum pergi di membangunkan lelaki yang masih meringkuk dalam selimut,

“Aku pergi dulu, Sayang,” bisiknya sambil tak lupa mengecup pipi laki-laki itu. Herman membuka matanya.

“Iya, besok datang lagi ya. Tangismu semalam kurang lepas. Nggak natural.”

“Iya, Sayang,” sahut Nimas dengan senyum yang tertahan.

Nimas ke luar dari rumah Herman. Tangan melambai saat ada taksi melintas. Hatinya sesungguhnya berontak. Jiwanya lelah, raganya menyerah. Dirabanya memar yang memerah di pipinya. Ada perih yang masih tersisa. Perih dan getir yang diam-diam dia nikmati. Seperti candu yang sudah menyatu dalam bulir darahnya. Mengalir mengisi otaknya yang kesepian.

Herman, lelaki yang dikenalnya setahun lalu ini memang beda. Dia bukanlah orang yang berada. Wajahnya pun biasa saja. Namun telah menawan hatinya. Tubuhnya tinggi tegap Di balik kegarangannya, dia menyimpan kerapuhan. Nimas kadang harus berperan sebagai ibu yang sabar menghentikan tangis Herman. Tapi di lain hari dia harus rela menjadi budak yang ikhlas menerima dera demi dera. Sebuah anomali. Jerat yang mengikatnya erat yang membuatnya lepas darinya. Tapi kali ini tekatnya sudah bulat.

“Aku harus meninggalkan dia.”

***

“Kamu jangan coba kabur dariku, Nimas!” bentak Herman di atas tubuh Nimas yang lemas terikat. Setelah seminggu menghindar dari Herman, semalam nasibnya tak memihak padanya. Baunya terendus Herman di salon langganannya.

“Aku capek, Man. Selama ini aku mencoba bertahan, tapi kamu memang gila!” jerit Nimas.

“Plaakk!” telapak tangan Herman menghajar pipi Nimas.

“Diam!” bentaknya menggelegar. Tangis Nimas kian lebat. Herman menyunggingkan senyum mautnya. Dia lalu mengeluarkan tape recorder dari laci mejanya.

“Menangislah yang keras, Nimas. Tak akan ada yang mendengar jeritmu di sini. Kamar ini kedap suara!”

“Kamu gila, Herman. Lepaskan aku…lepaskan!!” jerit Nimas kembali menyayat hati.

“Malam ini adalah malam yang kutunggu-tunggu, Nimas. Laguku segera selesai. Menjeritlah sepuaslah. Berdendanglah dengan tangismu. Hahahaha!” gertak Herman sambil mulai menekan tombol pada tape recordernya. Lalu suara jerit kembali membahana.

****

Herman masih dengan ritualnya di beranda rumahnya. Setelah lagu di earphone-nya usai, senyumnya kembali merekah.

Di atas bubungan rumah. Seorang wanita mengawasi Herman. Rintihnya mengalun sunyi.

—-

bekasi, di pagi yang muram – 22 juli 2013

53 thoughts on “Prompt #21: Dendang Tangis

  1. Nimas, teriak dong dari wuwungan. Mecahin kaca jendela kek, bakar rumah kek. Pokoknya apa aja yang bisa menarik perhatian orang. :p

  2. Sakit nih Herman. Kenapa jg si Nimas harus ketemu Herman setahun yg lalu. Nimas mesti cari cara utk kembali ke masa lalu, terus hapus bagian ketemu sm Herman. Supaya dia bs hidup tenang dan damai. Karakter Herman bs dibunuh ketika ia masuk ke masa lalu. Supaya ga ada gadis2 lain yg bernasib sama seperti Nimas.

    Bagus, Mas, FF-nya. Euh, saya jd malu baca2 punya sendiri ~~~

    • Wah ulasannya panjang. Seandainya bisa lebih dr 500 kata mungkin bisa lebih seru. Pilihan lagunya juga juara sih. Langsung nyantel kalimat dendangkanlah sedihmu.

      Saya masih belajar mbak. Membuat cerita yg runut itu susah. Saya sih gitu.

      Makasih sudah mampir.

  3. Anjis keren nih! Walaupun ada beberapa typo, dan beberapa kalimat terkesan tidak efektif, tapi aku suka banget! Herman sakit!

    Oiya di bagian ini agak terganggu bacanya, kek -> Pipinya dibaluri bedak, untuk menutupi sedikit lebam di pipinya yang masih memerah.

    Mengulang kata pipi?

    Tapi kuangkat topiku tinggi-tinggi, kakek sigit ini produktif sekali!

  4. ini sih emang udah juwara si masnya😛. lha, nimass, dirimuw itu lho, udah bisa terbang di wuwungan, masa’ masih takut aja sama si herman? *kemudiandikeplak😀

  5. Pingback: Pengumuman MFF #21 | Coretan Mel

  6. Nimas3x, apa gak ada balok di bubungan buat nimpe tuh kepalenye si Herman? Tapi ya itu tadi, lha wong udah pas 500 Words, hehe…. Bunda suka. Idenya okpu.

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s