Home » kekisah » Malam Seribu Bintang

Malam Seribu Bintang


Image

Wanita itu buru-buru  menghapus air mata di pipinya saat aku memasuki surau. Wajahnya terlihat sedikit layu. Mungkin dia tidak tidur sepanjang malam. Aku masih sempat membalas senyumnya, sebelum aku melantangkan panggilan Tuhan di Subuh di pertengahan bulan Rajab. Selesai mengumandangkan azan aku menengok ke belakang dan wanita itu sudah tak ada.

Besoknya aku tiba lebih awal ke surau. Kulihat wanita itu bersiap-siap pergi meninggalkan surau. Sebelum dia berlalu, aku sempatkan menghampirinya..

“Aku ingin meraih Lailatul Qadr,” jawabnya saat kutanya kenapa dia selalu berdiam di surau sepanjang malam.

“Bukankah Lailatul Qadr hanya ada di bulan Ramadhan saja, Mbak?” sergahku penasaraan.

“Tuhan itu mahaasih, Dia tahu apa yang diniatkan hamba-Nya. Kalau pun tak mendapatkan Lailatul Qadr, semoga aku dapat ridha-Nya,” jawabnya lembut, membuatku menghentikan  pertanyaan yang membuncah di dada.

Wanita itu bernama Laila. Warga baru di kampungku. Dia tinggal sendiri di rumah mungil yang baru dibelinya  agak jauh dari surau. Wajahnya masih terlihat cantik. Usianya mungkin mendekati empat puluh lima tahun. Tak banyak warga yang akrab dengannya. Seharian dia mengurung diri di rumah dan  hanya sesekali dia ke luar untuk membeli keperluan sehari-hari di warung Bu Renggo. Dia pun tak pernah kulihat ikut shalat berjamaah di surau. Namum setiap tengah malam dia diam-diam pergi ke surau. Berdiam diri hingga subuh menjelang.

Kehadiran Laila di kampungku mulai menimbulkan kasak-kusuk. Ibu-ibu mulai menggunjingkan kehidupannya. Berendus kabar Laila adalah istri muda seorang pejabat atau bekas wanita malam. Meski mereka tak bisa membuktikannya. Ada juga yang menuduh Laila adalah pengikut aliran sesat, karena  kebiasaannya berdiam di surau sejak tengah malam hingga pagi.

Pagi itu seperti biasa aku ke surau untuk mengumandangkan azan. Kulihat Laila masih khusyu berdoa ditemani Mbak Sari, tetangga sebelah rumahnya. Di hari berikutnya jumlah orang yang iktikaf semakin bertambah banyak. Dan lama kelamaan surau  mulai penuh sehabis tengah malam, namun sepi di saat jamaah shalat lima waktu didirikan.

**

Malam itu Haji Ilham mengumpulkan warga di surau selepas shalat Isya, untuk membahas masalah Laila sekaligus persiapan menyambut bulan Ramadhan.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Laila telah menjerumuskan warga ke jurang kesesatan,” seru Haji Ilham dengan nada tinggi.

“Benar, Pak Haji!” Lik Hanafi menimpali, “sebaiknya kita bubarkan saja kegiatan mereka, atau kita usir Laila dari kampung kita. Supaya tidak mengganggu kita beribadah di bulan Ramadhan.”

“Apa tidak sebaiknya, mereka kita ajak bicara baik-baik dulu, Pak Haji,” usulku.

Suasana mendadak agak ramai mendengarkan usulku. Ada yang kontra dan tak sedikit yang mendukungku.

“Kalau Pak Haji setuju, besok saya akan ke rumah Laila, dan mengundangnya ke surau untuk membicarakan hal ini,” kataku penuh keyakinan

Pak Haji setuju dengan usulku, dan rapat pun bubar beberapa menit setelahnya.

***

Sore harinya sepulang kerja, aku mampir ke rumah Laila. Kubuka perlahan pintu pagar rumah kontrakkanya dan kuketuk pintu rumahnya. Tiga kali salam, pintu belum juga terbuka. Dari kaca jendela aku mencoba mengintip keadaan di dalam. Tak ada suara. Sesekali tercium bau harum semerbak aneh dari sela-sela rongga jendela. Aku terperanjat, saat tiba-tiba pintu rumah terbuka.

“Eh, Mas Darso. Mari silakan masuk,” sapanya ramah.

Tanpa banyak kata, aku langsung menyampaikan hasil pertemuan semalam untuk mengundang Laila untuk bertemu dengan para tokoh kampung. Aku berusaha menghindarkan mataku bertemu matanya yang dalam. Laila tampak gugup mendengarkan ceritaku tentang keresahan warga dengan ritualnya selama ini.

“Aku tak pernah mengajak mereka. Aku juga bingung kenapa tiba-tiba banyak yang mengikutiku,” kata Laila gugup.

“Mbak bisa jelaskan ke Pak Haji Ilham dalam pertemuan besok,” kataku sambil sekalian undur diri.

Malam pertama bulan Ramadhan setelah menjalankan shalat tarawih,  warga telah berkumpul di surau. Mereka tampak resah karena Laila dan pengikutnya belum juga hadir. Semua mata menatapku, seakan menuduhku sengaja tak menyampaikan hasil pertemuan kemarin.

“Dia janji akan datang, Pak. Kita tunggu barang sejenak,” ujarku berusaha menenangkan mereka.

Hingga hampir tengah malam, Laila belum juga datang. Kesabaran warga telah habis.

“Kita serbu saja rumahnya,” seru Kang Kardiman, jagoan kampung.

Suasana mulai panas, aku mencoba menenangkan tapi tak digubris. Haji Ilham mengikuti usulan warga dan memimpin mereka menuju rumah Laila.

****

Warga yang berkerumun di depan rumah Laila bertambah banyak. Mereka berteriak-teriak meminta Laila keluar dari rumahnya. Haji Ilham berusaha menenangkan mereka. Tapi warga semakin beringas karena Laila tak juga kunjung keluar. Lalu batu-batu mulai beterbangan menuju rumah Laila. Kaca dan genting pecah berserakan.

“Jangan dibakar, jangan dibakar!” teriakku.

Suara teriakku lenyap tertelan amarah warga. Api mulai berkobar di teras, kemudian menyambar atap dan mulai menghanguskan rumah Laila. Aku hanya bisa menatap nanar rumah Laila yang habis terbakar. Setelah puas melampiaskan kemarahan, warga pun mulai pulang.

Selepas sahur aku bergegas ke surau untuk mempersiapkan salat Subuh pertama di bulan Ramadhan. Di tengah perjalanan ku lihat Laila berjalan perlahan. Berpakaian serba putih dengan rambut tergerai. Tubuhnya bercahaya lembut.

“Laila!” seruku tertahan. Laila menengok sebentar, tersenyum lalu kembali berlalu..

Warga keluar dari rumahnya menuju surau. Mereka takjub. Langit penuh cahaya. Bintang-bintang kejora terasa mendekat. Hembus angin terhenti. Embun jatuh perlahan-lahan, lalu menyucikan wajahku. Tak ada bunyi serangga malam dan kokok ayam jantan. Suasana begitu syahdu. Tenang menghanyutkan. Sementara di sudut langit yang lain, kulihat bulan sabit tipis menyunggingkan senyumnya.

Senyum Laila.

Pelaihari, 5 Juli 2013

——–

Cerpen ini terpilih sebagai salah satu finalis terbaik kategori perorangan dalam #ProyekMenulis #KejutanSebelumRamadhan yang diselenggarakan dan diterbitkan sebagai buku oleh nulisbuku.com

Untuk pemesanan dapat dilakukan di sini

19 thoughts on “Malam Seribu Bintang

  1. Suwer, bagi saya Mas Sigit ini piawai banget bikin cerita. Gak heran kalo cerpen ini terpilih sebagai salah satu finalis terbaik.
    Selamat ya Mas. Jangan lupa ah siyapkan lagi waktu buat kita ketemuan di BCP…hehehe
    Salam,

  2. jujur, cerita ini manis sekali. tapi, seperti ada yang hilang. mungkin, hilang bersamaan rumah Laila yang terbakar? entah… \(-.- )/
    huhuhuuuuuy… gaya bheut komennya ((:

  3. bagus banget om :’)
    tapi yang jadi pertanyaan, kenapa lailanya gak datang ke pertemuan warga ya? (–,)

    tapi tetep seperti biasa, cerpenmu selalu jadi favorit untuk kubaca. hihihihi😀

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s