Home » kekisah » Zebra Cross

Zebra Cross


zebracross

Mungkin ini yang yang dinamakan kota mati. Kota yang sepi seperti tak berpenghuni. Lampu kota yang temaram dan sebentar hidup, sebentar mati merusak retina mataku. Dinding-dinding gedung dengan cat putih kelabu terkelupas di sana-sini. Kedai dan toko tua tampak masih menyala meski pembeli tak ada. Jalanan yang lengang dan hanya sesekali orang dan kendaraan melintas. Gerimis yang jatuh dari sore dan angin malam dingin yang berkesiut perlahan meniupkan kabut menambah muram kota ini. Di sekeliling kulihat hanya ada dua warna, hitam dan putih. Dan aku berpayung hitam masih berjalan menyusuri trotoar yang retak-retak tak terurus.

Aku tak sengaja singgah ke kota ini. Gadis manis bermata jeli berpayung hitam itu yang menuntunku ke sini. Langkahnya yang ritmis dan ditimpali dengan senyum menggoda saat menengok ke arahku benar-benar membiusku. Hingga tibalah dia di sebuah lorong gelap. Dia berhenti sejenak sambil melambaikan tangan ke arahku, sebelum dia masuk ke lorong itu. Langkah lariku tak terhenti. Seperti menabrak sebuah tabir halus. Lalu tibalah aku di kota ini. Namun gadis yang belum kuketahui namanya itu menghilang. Hanya payung hitamnya yang tertinggal.

Langkahku terhenti di perempatan jalan ini. Lampu lalu lintas ini mungkin sudah rusak. Sepuluh menit lebih dia masih menyala. Sementara tak satu pun mobil yang melintas. Di seberang sana tiba-tiba mataku membentur sesosok bayangan. Gadis bermata jeli itu. Matanya tajam menusukku. Tapi hanya sesaat lalu senyumnya kembali tersungging. Tangannya melambai manja seakan mengajakku ke sana. Aku balas senyumnya lalu bergegas menyeberang. Belum sempat kakiku melangkah bayangan gadis itu kembali menghilang. Aku segera berlari. Namun kembali langkahku terhenti. Jalanan berguncang hebat. Ada yang terbangun saat aku terjatuh, terjerembab di jalan raya. Zebra Cross itu. Bangun kemudian meringkik. Berlari kencang di depanku. “Astaga!”

Mataku masih mengikuti kemana larinya zebra itu. Seperti pegasus dia melesat terbang. Di punggungnya duduk gadis bermata jeli itu melambaikan tangannya. Aku berlari mencoba mengejarnya tapi sia-sia. Zebra itu terbang semakin tinggi. Dalam keputusasaanku, aku bertemu seorang polisi.

“Pak Polisi, ada zebra cross terbang!” seruku.

Polisi itu masih terdiam.

“Pak, ada zebra cross terbang!” teriakku lebih kencang.

Polisi itu tiba-tiba bangun dari tidurnya. Lalu berlari dan membangunkan teman-temannya yang tidur di sepanjang jalan.  Aku tergeragap. Jalanan kembali porak-poranda.

Itu yang terakhir kuingat. Saat aku tersadar, aku masih tergeletak di jalan raya. Sementara motorku kulihat ringsek 10 meter di depan tubuhku. “Polisi tidur sialan,” geramku.

Ada garis kapur putih mengelilingi tubuhku.

—-

Banjarbaru, 17 Juli 2013

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s