Home » kekisah » [Berani Cerita #14] Kambing Hitam

[Berani Cerita #14] Kambing Hitam


kucing hitam

Aku adalah seekor kucing. Buluku berwarna hitam legam dan tak ada sehelai pun yang berwarna lain. Mata, hidung, gigi, bahkan kukuku pun berwarna hitam. Di dunia perkucingan aku diasingkan. Kucing-kucing kampung tak ada yang mau berteman denganku, apalagi kucing-kucing indo di perumahan mewah sebelah kampung. Rasialisme ternyata tidak hanya ada di dunia manusia.

Aku tinggal di rumah Tuan Blanco. Seorang kakek tua yang sudah memutih rambutnya. Dia tinggal seorang diri di rumah kecilnya. Istrinya telah meninggal tiga tahun yang lalu dan tanpa meninggalkan anak. Persis seperti namanya, Tuan Blanco adalah penggemar warna putih. Rumah dan segala isinya berwarna putih. Tuan Blanco mengisi hari tuanya dengan menulis puisi atau cerpen. Sesekali dia menyendiri di kamarnya dan tak keluar kamar lebih dari dua hari. Meski berbeda warna kulit Tuan Blanco sangat sayang kepadaku. Walaupun dengan menu seadanya kebutuhan makanku selalu terpenuhi. Setiap minggu sekali aku dimandikan. Tuan Blanco selalu memotong kukuku sebulan sekali.

Sama sepertiku, Tuan Blanco juga dikucilkan oleh warga sekitar. Mereka menganggap Tuan Blanco sebagai orang gila yang mempunyai ilmu sihir dan bersekutu dengan iblis. Apalagi sejak dia memeliharaku. Setiap kali ada warga yang meninggal atau sakit yang tidak wajar, selalu terdengar gunjingan bahwa itu ulah Tuan Blanco. Kematian istrinya bahkan konon adalah sebagai tumbal ilmu hitamnya. Tapi Tuan Blanco tetap bersikap tenang, dan warga pun tak pernah bisa  membuktikannya.

Malam itu aku sedang memburu seekor tikus gemuk untuk mengisi kebutuhan proteinku. Meski gemuk dia begitu gesit berkelit di sekitar parit. Aku tak sudi melepasnya. Dia terus berlari menuju atap rumah warga. Rumah besar itu milik Tuan Gilberto, tetua desa yang sudah seminggu ini menderita sakit. Genteng yang masih basah karena diguyur hujan membuatku terpeleset. Tubuhku jatuh di depan teras, tepat di depan warga yang sedang berjaga-jaga. “Kucing Tuan Blanco!!” teriak seorang warga, tepat di saat Tuan Gilberto menemui ajalnya di kamar tidurnya.

Tikus bangsat itu membawaku ke hutan di ujung desa. Tubuhnya berhasil kusergap dan kusantap menjelang pagi. Aku terlelap sebentar di bawah pohon beringin tua. Menjelang siang aku pulang. Sampai di kelokan jalan, aku melihat asap mengepul dari arah rumah Tuan Blanco. Perasaanku langsung dilanda was-was. Lantas aku berlari bergegas. Benar. Rumah putih Tuan Blanco telah amblas. Terbakar habis tanpa bekas. Warga menuduh Tuan Blanco telah menyantet Tuan Gilberto. Beberapa polisi dan warga masih berjaga-jaga. Aku mengintip dari semak-semak di samping rumah. Lalu kulihat beberapa polisi keluar membawa kantong jenazah. “Tuan Blanco yang malang,” isakku tertahan. “Kenapa Tuan selalu jadi kambing hitam.”

Tak berapa lama kulihat polisi keluar membawa satu kantung jenazah lagi. “Mayat siapa?,” pikirku. Rasa penasaran menyergapku. Kupasang radar telingaku tajam-tajam. “Kami menemukan tulang belulang tersimpan di sebuah guci di kamarnya, Komandan. Diduga ini adalah tulang belulang istri Tuan Blanco,” suara percakapan polisi itu menyentakku dan memancingku untuk mendekati.

“Itu kucing Tuan Blanco! Ayo kita kejar dan habisi,” terdengar teriak seorang warga. Aku pun berlari secepat-cepatnya.  Lima orang warga terus mengejarku hingga ke hutan di ujung desa.

Dan mereka tak pernah kembali.

—-

485 kata

ilustrasi diambil dari sini

24 thoughts on “[Berani Cerita #14] Kambing Hitam

  1. masih nggak ketemu nih di mana hubungan antara kelakuan aneh tuan blanco dengan tulang belulang – yang diduga- istrinya. petunjuk tambahan dong mas…🙂

    • Gitu ya, agak maksain beberapa twist dalam 1 cerita sih ini, padahal sangat terbatas jumlah katanya…hehehe. Intinya sih gini, asumsi Tuan Blanco adalah penganut ilmu hitam yang menumbalkan istrinya itu adalah benar-benar terjadi, dan kucing hitam itu adalah salah satu jelmaan iblis. Maksa ya… ya sudahlah.

      Terima kasih lho udah baca

      • karena dari penuturan tentang tuan blanco sendiri tidak ada yang aneh. dia cuma lelaki tua penyendiri yang senang berpuisi. kalau ada satu dua kalimat -sepintas lalu- yang menyatakan keanehan tuan blanco, mungkin asumsi pembaca akan langsung mencari hubungan antara tuan blanco dan belulang itu.🙂

      • Iya sih Ga, biarlah itu menjadi misteri…. hehehe.
        Sebenarnya aku sudah nyisipin kalimat :
        “Kematian istrinya bahkan konon adalah sebagai tumbal ilmu hitamnya”

        Mungkin kurang jelas, tapi itu sebenarnya kumaksudkan sebagai petunjuk.

  2. masih mikir, setelah baca ceritanya dua kali dan baca beberapa komen, daaaaaan… masih mikir juga…😀 kalo kucingnya jelmaan iblis, apa mungkin tikus itu jelmaan nyawa korban tuan blanco? naluri kucingnya kurang sadis, kayaknya :p

    [waspada! komen ini akan hancur dalam 5 tahun, bila tidak, hubungi dokter terdekat, atau dukun beranak!]

    • Alhamdulillah kalau masih bisa mikir Pah, domestos nomos udah diminum? Hahahha

      Ok, karena banyak yang bingung, nanti saya perbaiki.
      Terima kekasih

  3. hoo ku kira itu tulang2 tikus yg dikoleksi sama si kucing ditaruh di guci..
    hahaha..
    keren om ceritanya!

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s