Home » kekisah » Sergapan Maut

Sergapan Maut


Image

Azan Shubuh masih sayup-sayup terdengar. Fajar merekah saat peluru berhujanan memecah kaca jendela rumah kontrakanku. Aroma maut mesiu bercampur dengan aroma tanah basah yang dibasuh gerimis semalam memenuhi ruangan. Malaikat maut menutup sayapnya lalu berterbangan menaiki peluru-peluru polisi.  Di sudut ruangan kulihat Rikat rebah bersimbah darah. Selangkah dariku Giras juga tersungkur dengan peluru tertanam di antara simpul otaknya. Pistol di tanganku mulai megap-megap kehabisan peluru.

Rikat dan Giras, dua orang ini sudah 2 bulan hidup bersamaku dalam rumah petak sempit ini. Aku belum lama mengenalnya. Mereka adalah kakak adik yang yatim piatu sejak kecil. Aku bertemu mereka saat aku sembahyang di suatu surau kecil, saat aku kemalaman karena banjir menghalangi jalan pulangku. Seusai sembahyang bahuku ditepuk seseorang. Rikat memperkenalkan dirinya sebagai marbot yang menjaga surau itu bersama Giras adiknya. Sambil menunggu hujan reda kami berbincang macam-macam. Dari keluh kesah karena ketidakbecusan negara mengurusi banjir, rakyat yang tambah miskin, maksiat yang meraja lela, hingga ide-ide mendirikan negara sendiri berazaskan agama. Hujan pun reda, saat Shubuh nyaris tiba.

“Kalian sudah terkepung, menyerahlah!!”

Suara polisi yang berteriak lantang dari corong megaphone membuyarkan pikiranku.

“Aku akan meledakkan bom di tubuhku!!” teriakku tak kalah lantang. Sejenak hujan peluru mereda.

Tak pernah terlintas di benakku, suatu saat aku bisa membuat bom. Menyalakan petasan atau kembang api saja aku tak berani. Sejak berkenalan dengan Rikat dan Giras jalan pikiranku berubah. Pelan-pelan mereka membilas otakku. Mencuci bersih tak bersisa, lalu menabur dogma-dogma baru. Aku semakin jarang pulang ke rumah. Sejak di-PHK perusahan setengah tahun yang lalu, aku jarang menginjak halaman rumahku. Rikat dan Giras membawaku menemui seseorang. Mereka memanggilnya Pak Abu, lelaki paruh baya dengan jenggot panjang sedepa dan tatap mata yang dalam menghanyutkan. Aku benar-benar terhanyut dibuatnya. Pak Abu mengajariku tentang makna hidup, perjuangan, lalu merembet hingga cara merakit bom. Bom betulan, meski dibuat dengan materi sederhana. Lalu kami merancang aksi, meledakkan Kedutaan Asing dua hari lagi.

Suara senapan kembali menyalak, membuat lubang-lubang di dinding. Dengan peluru yang tersisa aku berusaha membalas tembakan. Aksi kami sebenarnya tak menemui hambatan berarti. Bom ransel sudah siap. Survey lokasi hingga hal-hal kecil lainnya pun sudah beres. Giras sudah siap menjadi pengantin. Rikat dan aku sudah menyiapkan skenario penghapusan jejak. Suatu hal yang tak kami ketahui, Pak Abu telah tewas disergap polisi kemarin.

Aku sudah siap, memantik bom ransel di tubuhku, saat suara ledakan menggoyahkanku. Pintu rumah jebol. Lalu…

“Dorr..dorr…dorr !!”

Satu peluru menembus kepalaku. Dua menembus dada kiriku. Aku berdebam ke lantai. Takbir yang kuucapkan berhenti di tenggorokan

Aku tersentak kembali. Suara sorak-sorai terdengar dari kubikel di sebelahku, meledekku. Aku pun tersipu malu.

“Counter terrorists win”

Sialan.

— pelaihari, 22 mei 2013

4 thoughts on “Sergapan Maut

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s