Home » kekisah » Sang Algojo

Sang Algojo


algojo ilustrasi

 

Laki-laki tua itu menghisap rokok klobotnya yang tinggal sesenti dalam-dalam, seakan tak mau melepaskan. Hisapan terakhir konon adalah puncak dari kenikmatan merokok. Nikotin berputar-putar di tenggorokan bersama asap sebelum akhirnya menetap di paru-paru saat asap dihembuskan kembali. Rambut di kepalanya mungkin kurang dari separuh, tak tersisa lagi rambut hitamnya. Otot-otot lengannya tampak kokoh meski gelambir sudah menghias di sana-sini.  Matanya tiba-tiba nyalang. Dia berdiri dengan tangan terkepal lalu berteriak, ”Ganyang…ganyang!”  Tak lama kemudian dia kembali duduk lemas tak berdaya. Air matanya tumpah, lalu menetes ke tanah melewati kerut-kerut di wajahnya. Rantai berkarat mengikat kakinya kuat.

*

Malam kian tua. Burung hantu terus bernyanyi. Sesekali terdengar suara burung gagak berkoak-koak. Seakan ingin mengantarkan malaikat maut untuk mencabut ruh-ruh yang bersemayam di tubuh penduduk desa. Sudah sebulan desa ini mencekam. Seperti api dalam sekam yang siap berkobar. Apalagi sejak prahara terjadi di Jakarta. Dua kekuatan di negara ini berhadap-hadapan. Lalu darah mulai tertumpah sampai ke desa-desa di pelosok negeri. Ketakutan menjadi teman hidup yang akrab, bersahabat erat dengan kemiskinan yang memeluk kehidupan warga desa.

Mujib masih khusyuk larut dalam doanya. Tangan sibuk memilin butir-butir tasbih. Sesekali peristiwa kemarin pagi menyelinap di sela-sela munajatnya kepada Sang Mahakuasa.

*

Haji Ayub adalah orang terkaya di Desa Wanareja. Sawahnya tersebar di semua penjuru desa. Warga desa sangat menghormatinya. Maklum, sebagian besar warga sesa adalah buruh tani yang bekerja di sawah yang dimiliki Haji Ayub. Pagi itu seperti biasa orang-orang bergerak menuju sawah.

Mujib sudah bermandi peluh, dia tak lelah menggarap sawah warisan keluarganya yang sudah siap ditanami padi. Sawahnya yang hanya seluas kurang dari 30 meter persegi itu dikelilingi oleh sawah-sawah Haji Ayub yang menghampar luas. Sudah lama Haji Ayub ingin menguasai sawah itu, karena letaknya yang dekat dengan pintu saluran irigasi. Tinggal sawah itu saja yang belum berhasil dikuasainya. Namun Mujib selalu berkeras tak akan menjual sawah warisan keluarganya dengan harga berapa pun. Dia kuat memegang pesan terakhir ayahnya.

Mujib sedang menyeka keringat yang membanjiri tubuhnya, saat tiba-tiba matanya bertubrukan dengan pemandangan puluhan warga desa yang berduyun-duyun menuju sawahnya. Haji Ayub tampak berada di barisan terdepan, memimpin warga desa yang tampak membawa arit dan golok terhunus.

“Mujib !!. Turun sini,” teriak Haji Ayub begitu sampai di jalan di depan sawah Mujib.

Mujib tergopoh-gopoh turun ke jalan menemui Haji Ayub.

“Ada apa Pak Haji. Pagi-pagi kok sudah ramai seperti ini?” tanya Mujib kebingungan.

“Kamu ndak usah pura-pura bodo ?” sergah Haji Ayub. “Sawahmu memang sempit, tapi ojo wani-wani mencangkuli pematang sawahku. Lihat, pematang sawah ini tambah sempit saja!”

“Saya ndak, melakukan itu Pak Haji. Demi Allah,” bantah Mujib.

Wis ndak usah mungkir. Banyak saksinya kok. Bener ndak?” suara Haji Ayub tak mau kalah.

“Bener…bener!” teriak warga serentak.

“Demi Allah, Pak Haji. Saya ndak melakukan tindakan tercela seperti itu. Itu semua fitnah,” Mujib tak mau terima.

Ndak usah nyebut-nyebut Gusti Allah.  Maling mana ada yang ngaku,” ketus Haji Ayub.

“Ganyang wae Pak Haji. Ganyang!” massa mulai beringas. Mereka mulai merangsek mendekati Mujib dengan arit terhunus.

Mujib sebenarnya tak gentar. Tangannya erat memegang golok yang tergantung di pinggangnya. Dia sudah bersiaga menghadapi kemungkinan terburuk. Ilmu silat warisan keluarganya dia pikir mampu menghadapi puluhan warga desa itu. Pertumpahan darah nyaris pecah, andai saja saat itu tidak melintas iring-iringan truk hijau tentara. Beberapa tentara bersenjata lengkap turun ke tengah kerumunan massa.

“Ada apa ini?.  Ayo bubar, bubar!” teriak salah satu prajurit. Senjata di tangannya sudah terkokang, siap menyalak.

Massa pun bubar dengan gerutu di mulutnya. Mujib kembali bernafas lega. Dia lalu kembali ke sawahnya, sesaat setelah tentara-tentara itu kembali melanjutkan perjalanan.

*

Malam itu Balai Desa Wanareja terlihat ramai. Dua truk tentara terparkir di halaman. Di aula desa berlangsung rapat. Suasana terlihat begitu tegang. Haji Ayub terlihat suntuk mengikuti jalannya rapat.

“Keadaan negara ini sungguh berbahaya. Kita harus bertindak terlebih dahulu sebelum didahului. Membunuh atau terbunuh,” terdengar suara tegas dari komandan tentara. Haji Ayub tersenyum menyeringai. Sebuah rencana jahat bergulir di otaknya.

Mujib mengakhiri doanya. Kepalanya dia tenggelamkan ke atas sajadahnya yang sudah lusuh. Dia kembali membaringkan tubuhnya di balai bambu, saat tiba-tiba pintu rumahnya didobrak.

*

Ghofar menendang pintu rumah itu sekuat tenaga. Ada tanda silang merah yang masih basah di pintu yang kini terpental itu. Kemudian dia dan tiga orang kawannya yang berbaju hitam-hitam dan bertopeng itu menyerbu ke dalam rumah. Mujib yang baru saja nyaris terlelap tergeragap. Dia tak sempat lagi melawan saat tangan-tangan empat orang itu meringkus dan kemudian menutup kepalanya dengan karung beras. Tangan-tangan kekar tampak terlatih untuk melumpuhkan musuh.

“Naikkan ke truk!” seru Ghofar kepada ketiga kawannya.

Mujib tak berdaya saat tubuhnya dilemparkan ke dalam bak truk. Dia mencium bau anyir darah, dan mendengar rintihan tangis beberapa orang yang ketakutan. Sedikit kelegaan merasuk di dadanya. “Aku tak sendiri,” pikir Mujib.

Truk berjalan membelah malam yang sudah beringsut pagi. Mujib tak tahu kemana dirinya akan dibawa. Dalam hatinya dia hanya bisa bertanya-tanya, kesalahan apa yang telah diperbuatnya. Mulutnya terus mengucap doa dan membaca ayat-ayat suci. Sementara itu masih terdengar suara isak tangis di dalam truk itu. Ghofar dan beberapa temannya terus mengawasi mereka dengan sorot mata tajam.

“Sudah jangan cengeng, ndak usah nangis ! Itu siapa yang ngaji ? Komunis kok minta tolong sama Gusti Allah. Minta tolong sana, karo Lenin!” bentak Ghofar galak. Mujib terkesiap. “Ya Allah, hanya padaMu aku berlindung,” doanya dalam hati.

*

Truk berhenti di hutan di belakang desa. Sementara matahari tampak malu-malu membuka matanya, menyembul di balik gunung. Puluhan orang termasuk Mujib diturunkan dari atas truk. Kepalanya masih dibungkus karung beras. Tangan dan kakinya terikat. Mujib berada di barisan paling belakang. Langkahnya gontai tersaruk-saruk batu dan akar pohon.

Ghofar menyiagakan pasukannya. Seluruh tawanan dijejerkan di tepi lubang menganga yang sudah disiapkan seminggu sebelumnya. Golok-golok mengilat mulai terhunus. Masing-masing tawanan tertunduk pasrah. Tubuh mereka layu bertumpu lututnya.

“Habisi mereka!” aba-aba dari Ghofar. Tak lama kemudian terdengar suara tebasan golok memecah pagi. Kepala-kepala bergelindingan. Lantas tubuh-tubuh tak berdaya itu bertumbangan masuk ke dalam lubang yang menganga. Mujib terus membaca ayat-ayat suci. Dia pasrah akan nasibnya. Ketika suara tebasan golok terdengar di samping telinganya diiringi tubuh yang merebah, dia menahan nafas.

“Laa ilaaha illallaah,” mulutnya terus bertahlil.

Golok yang menebas lehernya tak sempat dia rasakan. Tubuhnya terhempas ke dalam lubang. Kepalanya menggelinding dan berhenti tepat di depan kaki Ghofar. Ghofar tampak gemetar. Kaki kokohnya tiba-tiba lunglai. Dia jatuh terduduk. Kepala Mujib masih terus saja bertahlil.

*

Hampir setengah abad berlalu. Ghofar selalu menitikkan air mata. Setiap suara azan yang syahdu berakhir.

“Laa illaaha illalaah”

Tiba-tiba terbayang di pelupuk matanya kepala Mujib yang terus bertahlil.

Ghofar tak berdaya. Rantai yang berkarat erat mengikat kakinya

——

bekasi, 27 januari 2013

cerpen ini gagal tayang di sebuah koran ibukota

ilustrasi diambil dari sini

8 thoughts on “Sang Algojo

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s