Home » kekisah » [Berani Cerita #12] Balada Soni dan Susi

[Berani Cerita #12] Balada Soni dan Susi


shoes

Namaku Soni. Soni saja dan pakai huruf “i” di belakangnya. Aku adalah pejalan kaki. Orang menyebutku pengelana sunyi. Di punggungku tergantung sebuah tas lusuh, berisi sepasang baju ganti, sarung rombeng, dan buku tulis dekil tempatku mencatat perjalanan dan beberapa sajak murahan. Tas itu selalu melekat di tubuhku dan hanya aku lepas saat mandi dan buang tai. Tempat tinggalku tak menentu. Kadang di bawah jembatan, emperan jalan atau kalau sedang beruntung aku bisa bermalam di serambi musholla.

*

Namanya Susi. Susi saja dan pakai huruf “i” di belakangnya. Kemana-mana dia pergi, baju merah darah yang sudah mencoklat dibakar matahari itu selalu menutup tubuhnya. Dia selalu setia menemani kemana langkahku pergi. Aku adalah seekor merpati dan Susi adalah peluit di buntut belakangku. Suaranya memecah langit yang tersibak kepak sayap. Intinya di mana ada Soni, di situ ada Susi. Aku mencintainya setengah mati.

*

Tibalah suatu masa. Di mana huru-hara membakar kota. Angkara murka meraja lela. Aparat negara tak berdaya. Penguasa mulai tak kuasa. Dan sejak peristiwa itu, banyak orang yang diburu dan diculik. Gelandangan dan pengelana lontang-lantung tanpa identitas jelas sepertiku dikejar-kejar. Rumah-rumah kumuh, kontrakan-kontrakan murah digeledah. Aku tak mengerti, apa salah kami?

Sore itu aku baru selesai shalat Ashar, sedikit terlambat. Susi terlelap di sampingku. Wajahnya kotor berdebu namun bibirnya terus tersenyum. Doa-doa masih mengambang di atas kepala, saat terdengar derap kaki mendekat serentak. “Tangkap…tangkap!!” Aku bangkit lalu berlari, tak tahu apa yang terjadi. Di kepalaku hanya ada naluri, menyelamatkan diri. Tak lebih dari seribu langkah kaki, aku menyerah. Sebutir timah panas bersemayam di kaki kiriku yang telanjang. Mereka menerjang. Meringkusku. Mengikat tangan dan menutup mataku. Aku hanya bisa mengerang. Bibirku terus bergumam, “Susi…..Susi!

*

Sejak senja itu, semuanya menjadi gelap. Mata tertutup, lalu disekap di kamar yang pengap sungguh membunuh syaraf retina. Yang kuingat pun hanya senyap. Meski kadang masih terngiang-ngiang di telinga suara bentak, gebrak dan ‘krakk’ bunyi tulang iga yang koyak. Sering juga terselip suara jerit, panjang mengiris-iris luka. Dari bibir kering pecah-pecah ini hanya terucap kata “Susi…Susi.”  Entah di mana dia kini. Dan aku harus berterima kasih pada pingsan, yang sejenak melupakan perihnya derita dan menahan lapar sementara.

Tubuhku berdebam di bumi. Bau busuk menyergap hidung. Sinar matahari pagi menerobos kain penutup mata yang sudah separuhnya terbuka, menyilaukan. Retinaku mulai bereaksi. Cahaya mulai melemah, lalu semua perlahan semakin jelas. Aku berada di tumpukan sampah, di kota mana entah. Syaraf-syaraf di otak mulai bekerja mengumpulkan simpul-simpul ingatan.  Mataku terus menjelajah.  Sejurus lalu gerak bulir korneaku terhenti di satu titik. Sepasang sepatu butut berwarna merah yang pudar mejadi kecoklatan terbakar matahari.  Hatiku tercerabut lalu hanyut. Mulutku terbata-bata bergumam lirih, “Susi….Susi”

Sepatu butut dekil itu menoleh ke arahku. Senyum di bibirnya masih sama. Tak salah lagi, dia kekasihku.

Susi.

—- bekasi, 19 mei 2013

( 454 kata)

23 thoughts on “[Berani Cerita #12] Balada Soni dan Susi

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s