Home » kekisah » [Berani Cerita #10] Sepucuk Surat dari Antariksa

[Berani Cerita #10] Sepucuk Surat dari Antariksa


Image

Ayah Liza keluar dari ruang kerjanya sambil mengacungkan sepucuk surat.

“Liza,” katanya, “aku sedang mencarimu; masuklah ke ruang kerjaku.”
Liza mengikuti ayahnya memasuki ruang kerja, dan ia menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh ayahnya tentu berhubungan dengan surat yang dipegangnya.
Mereka duduk berdua saling berhadapan. Liza menyusun kata-kata dalam kepalanya untuk memberikan penjelasan yang tepat.

*

Martino berdiri terbengong di kebun di belakang rumahnya. Tanaman jagung yang sudah siap dipanen tampak rebah ke bumi. Batang dan daun jagung seperti layu, seperti bekas ditimpa sesuatu. Di sana-sini masih tampak ada asap yang mengalun pelan, lalu perlahan sirna tertiup bayu. Martino lalu menyusuri tiap jengkal kebunnya. Hatinya menahan amarah dan duka. Seminggu lagi jagung-jagung ini siap di panen. Bahkan sudah dibeli oleh Tuan Baron sebulan lalu sebelum dipanen. Apa kata Tuan Baron nanti, jika tahu jagungnya gagal dipanen? Martino bingung memikirkan alasan dan tak tahu lagi kemana harus mencari uang untuk menggantinya. Penghasilannya dari gaji sebagai sales marketing alat-alat pertanian tentu tak saja cukup.

Setengah jam mengitari kebun jagungnya, Martino terduduk lesu. Ada rasa heran berkecamuk dalam otaknya, kenapa tak semua pohon jagungnya layu.  “Seperti ada pola tertentu,” batinnya. Di dorong rasa penasaran, Martino bergegas menaiki tangga menuju puncak atap rumahnya. Sesampai di atas, kakinya gemetar, mulutnya ternganga lebar. “Demi Tuhan..”

*

Sudah seminggu ini Martino melihat ada yang lain dari Liza anak semata wayangnya. Sejak Manuela, istrinya menghilang sepuluh tahun, Liza adalah hartanya yang paling berharga. Martino selalu mengikuti gerak-gerik Liza, menjaganya kemana pun dia pergi. Martino kembali terngiang wajah istri yang begitu dia cinta. Martino masih ingat, hari terakhir sebelum Manuela pergi, dia berdandan cantik sekali. Malamnya mereka bercinta sampai pagi. Dan saat dia terbangun, Manuela sudah tak ada. Hingga kini

Tak biasanya Liza bangun sesiang seminggu ini. Wajahnya tampak berbinar ceria, saat keluar dari kamarnya. Pipinya yang menggelembung tampak merah merona. Dari mulutnya sesekali terdengar senandung lagu gembira. Martino senang sekaligus heran melihatnya. Pagi itu selepas mengantar Liza ke sekolah, Martino memasuki kamar putrinya. Kamar mungil bercat merah muda, dengan wangi bunga dan foto-foto Liza yang ceria membuat Martino bungah.  Tubuhnya dia hempaskan ke ranjang Liza. Martino terhenyak, ada yang sesuatu yang keras mengganjal di balik bantal Liza. Martino membalik bantal, sebuah kotak tipis dari logam bersembunyi di baliknya. Martino membuka kotak itu sekuat tenaga. “Surat!!”

*

Liza masih gugup di depan Martino di dalam ruang kerjanya. Martino menyodorkan sepucuk surat tersebut.

“Liza, aku menemukan surat yang aneh di tempat tidurmu. Aku tak paham maksud surat ini. Mungkin kau bisa membantuku.”

Liza meraih sepucuk surat itu dan mulai membacanya.

“jIHtaH muSHa’ be’nallI ‘ej jIHtaH  luq tlhap be’nallI wa’leS –   SoS ” *)

Liza tersenyum, air matanya menetes. Gumamnya lirih.

“Mama….”

——-

</a

Jumlah kata 441 kata

*) diambil dari Bahasa Klingon artinya “aku mencintaimu dan aku akan menjemputmu besok – Mama”, atau bisa diterjemahkan di sini

Ilustrasi diambil dari sini

19 thoughts on “[Berani Cerita #10] Sepucuk Surat dari Antariksa

  1. iya, keren ihh… beda jauh sama BC yang udah ada sebelumnya. Jadi, kapan Mamanya Liza mau jemput, Om? Aku pengen ikutan jalan-jalan juga nih… :p

    • Padahal waktu nulis aku terinspirasi film Sign, Star Trek sama miniseri Taken kenapa jadinya mirip Partikel ya? Mungkin alam bawah sadar ya…. Btw Thank you

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s