Home » kekisah » Ki Darpo dan Peri Kunang-kunang

Ki Darpo dan Peri Kunang-kunang


— sebuah cerpen kolaborasi dengan Ade “Si Bangor” Yusuf

 

Kedatanganku di Desa Rawadadap, kampung kecil di kaki gunung Baluran tempat aku dulu menimbun kenangan masa kecil, disambut gumpalan awan gelap disertai guntur yang menggelegar. Kendaraanku bergoyang pelan saat melintasi jalan berbatu. Satu per satu butiran hujan menghunjam kaca jendela. Disusul dengan luruhnya kabut yang memuramkan seisi desa. Seolah mewakili wajah para penghuninya. 

Dua dasa warsa lalu, desa ini sungguh berbeda. Semua penghuni begitu ceria. Setiap pagi ibu-ibu berangkat ke pasar, bapak-bapak berangkat menuju sawah dan anak-anak bersenda gurau bersama menuju madrasah. Penduduk hidup guyup rukun saling bergotong royong membangun desa. Tapi semua tinggal kenangan, sejak Ki Darpo menjadi lurah. 

Ah, setiapkali mengingat nama orang tua itu, ada yang bergolak di dalam dada. Bagiku sosok Ki Darpo adalah iblis yang menyusup ke dalam tubuh seorang lelaki tua. Sialnya lagi, lelaki tua itu adalah orang yang sebelumnya begitu dijunjung dan dihormati oleh seluruh warga desa berkat tutur katanya yang lembut, perilakunya yang luhur serta sifat rendah hatinya yang membuat aku sebagai anak muda sangat mengagungkan beliau.

 *****

Seumur hidup tak bisa kulupa peristiwa malam itu. Saat itu aku baru pulang mencari belut di sawah bersama teman-teman. Rumahku yang ada di pojok desa, mengharuskanku berpisah dengan yang lain. Kususuri jalan setapak yang becek, lembab dan gelap. Hatiku berdentum keras setiap mendekati kuburan keramat di desa ini. Berulang kubaca dulu doa pengusir setan, lalu kuberanikan kakiku melintas, pelan namun pasti. Tak ada seorang pun yang mengetahui, siapa yang dimakamkan di sini, karena makam ini hanya berupa gundukan tanah yang dilapisi semen kasar dengan dibubuhi kayu tanpa nama sebagai nisan. Itu pun sudah mulai lapuk. Sebuah pohon besar dengan keliling sepuluh pelukan tangan orang dewasa kokoh menaunginya.

Tiba-tiba langkahku dihentikan  suara kerosak daun dan dengus nafas memburu. Ingin kakiku kubawa pergi, namun rasa penasaran memegang kuat hati. Perlahan kudekati sumber suara itu. Tampak seorang lelaki tengah bergumul dengan mahluk bercahaya terang keemasan. Seperti kunang-kunang dengan sepasang sayap mungil di punggungnya. Aku teringat cerita dongeng, mungkin ini yang disebut peri, meski tak mampu kulihat parasnya. Aku masih penasaran dengan sosok lelaki itu. Badannya tegap, kumisnya melintang garang. Seperti kukenali suara dengusnya. Baru saja aku hendak beranjak, tiba-tiba laki-laki itu berteriak, ”Siapa itu?! ” Sontak aku bergegas memacu kakiku mengambil langkah seribu. Tak salah lagi. Suara Ki Darpo.

 *****

Ibu tampak terkejut melihat aku yang pulang dengan wajah gemetar berpeluh keringat dingin. Pertanyaannya tak kuhiraukan dan langsung merebahkan diri di kamar. Bayangan peristiwa di dekat kuburan tadi terus menyeruak. Wajah lelaki dengan rahang kokoh itu tak henti menatapku tajam. Semakin dekat, semakin jelas ia berniat melumatku yang tak berdaya terbaring di atas dipan, berteriak memanggil nama ibu sekencang-kencangnya.

“Le, bangun Le.” Ibu mengguncang-guncang tubuhku yang gemetar tak henti mengigau. “Pak, badan Tole panas.” Bapak sama cemasnya melihat kondisiku. Ia pun bergegas mengenakan jaket dan mengambil senter. “Si Tole dikompres saja. Aku panggil Ki Darpo dulu.” 

Aku tergeragap. Semburan air berbau basin membangunkan tidurku. Kubuka mata perlahan. Wajah lelaki berkumis tebal menyeringai tepat berada di depan muka. Darahku berdesir teringat peristiwa semalam. “Bagaimana Le, masih pusing?”, tanya Ibu yang duduk di sampingku, penuh kesabaran meski khawatir. Aku mengangguk perlahan.

“Saya ingin bicara berdua dengan anakmu. Ibu bisa keluar sebentar?” suara berat Ki Darpo terdengar bagai petir yang menggelegar. Ibu keluar dari kamar, dan tinggalah kami berdua di dalam. Ki Darpo menghampiri aku yang bergidik ketakutan, mukanya merah padam dengan mata yang menyala. Lalu dia berbisik, “Apa yang kamu lihat semalam, jangan sampai ada yang tahu. Atau, krrrk..!!”, bisik Ki Darpo sambil menaruh jarinya di leher, seperti gerakan memotong. Aku gemetar hebat dengan muka pucat pasi.

 *****

Semenjak peristiwa itu hariku tak lagi sama. Setiap kali bercermin tampak awan hitam menggelayuti wajah hingga terlihat kuyu. Sesekali muncul seringai Ki Darpo dengan tatapan mata yang begitu tajam penuh ancaman. Rasa tak percaya, takut dan benci terus berkecamuk dalam dada. Bagaimana tidak, selama ini aku selalu rajin menyambangi rumahnya usai pulang sekolah. Demi untuk menyerap kata-kata bijaknya. Petuah-petuah menyejukan atau mendengarkan kisah-kisah pewayangan yang sarat filosofi. Bagiku Ki Darpo adalah sosok orangtua idaman. Tak seperti bapak yang kaku dan otoriter. Ucapannya hanya berkutat sebatas perintah atau larangan. Oleh karena itu aku lebih sering curhat pada Ki Darpo dibandingkan kepada bapak sendiri. Tapi kini semuanya berubah. Ingin kuteriakkan pada seisi dusun siapa sebenarnya lelaki sepuh panutan desa itu. Lagi-lagi seringai wajahnya malah membuat aku tambah layu berselimut awan hitam tebal yang menggumpal di  kepala. Terlebih di setiap purnama. Aku selalu dihantui mimpi buruk.

Hingga suatu pagi aku dibangunkan suara kentongan bertalu-talu. Salah satu tetangga ditemukan mati mengenaskan. Darahnya seperti habis dihisap makhluk buas. Kejadian itu terus berulang menjelang bulan membentuk bulatan sempurna. Konon kata peronda malam, Setiap kali ada warga yang ditemukan tak bernyawa, malamnya selalu didahului munculnya seberkas sinar yang meluncur dari arah kuburan. Aku semakin dihantui rasa bersalah yang menyerang dari segala penjuru. Jelas ini ulah Ki Darpo, tapi mulutku terlanjur membisu hingga kondisi kesehatanku terus menurun. Ibu dan bapak semakin ketakutan. Aku pun diungsikan ke Jogjakarta dan dititipkan pada Lek Sarman, pamanku yang juga ustaz, untuk meneruskan sekolah di sana.

 *****

Waktu terus berlalu. Tahun terus berganti. Segala peristiwa di kampung kudapat dari lembar-lembar surat yang selalu dikirim ibu, mengabarkan perkembangan desa yang kian hari kian terpuruk setelah Ki Darpo menjabat sebagai lurah dan menunjukan sosok aslinya. Kehidupan kian susah karena sawah ladang perlahan habis dirampok oleh orang-orang asing bawaan Ki Darpo yang jumlahnya terus bertambah. Warga yang melawan, mati secara misterius dengan diawali tanda-tanda yang seragam. Yaitu munculnya selarik sinar keemasan. Wabah penyakit aneh silih berganti menyerang anak-anak. Bayi-bayi terlahir menyeramkan akibat kekurangan gizi. Desa Rawadadap semakin horor semenjak kerap diselimuti kabut tebal. Pak camat pernah bertanya pada Ki Darpo perihal fenomena misterius ini, tapi hanya dijawab dengan enteng, “Jangan percaya tahayul. Musyrik.” 

 Setiap usai membaca surat dari ibu, semakin menumpuk rasa dendamku pada sosok iblis berkumis tebal itu. Bayangan peristiwa masa lalu di kuburan keramat, kembali muncul. Namun berkali-kali ibu melarangku, bila aku mengabarkan akan menjemput ibu dan bapak.

“Jiwamu akan terancam kalau kau memaksa pulang Tole. Di sini ibu dan bapak masih sanggup bertahan.”

Hingga sebulan lalu, setelah beratus purnama kutinggalkan desa, ibu tak lagi membalas surat yang kukirimkan. Kecemasanku sudah kepalang menggunung. Kuputuskan untuk pulang memboyong ibu dan bapak dari desa terkutuk itu, meski dengan risiko harus menyabung nyawa saat bertemu Ki Darpo.

*****

Laju mobilku terhenti di sebuah rumah tua. Daun-daun kering berserakan di penjuru halaman. Rumahku, setelah sekian lama kutinggalkan masih sama saja, hanya sedikit mengusam dan kehilangan aura. Rumah tua ini memang warisan turun temurun dari keluarga ibu. Mereka sepakat tak akan menjual rumah ini meski kian lama kian uzur dan lapuk tulang-tulang kayunya. “Bisa kualat,” kata ibu suatu kali. Tak lama setelah kuketuk pintu, lampu ruang tamu menyala, lalu pintu pun terbuka. “Tole?” Pertanyaan ibu kujawab dengan menyongsong tubuh renta itu. Dekapannya masih sama, sehangat peluk pertama saat dadanya kurenggut, sesaat setelah kuhirup udara dunia. Airmata membanjiri pipiku. Hampir sepuluh tahun lamanya kerinduan yang sudah menumpuk  dalam dada, tumpah-ruah. Kami pun masuk ke dalam rumah, mengudarasa dan kembali melampiaskan rindu dendam yang tak habis-habis. Sekuat tenaga kutahan gemeletak saat berada di dalam rumah. Mataku berkeliling mengamati seluruh isi ruangan yang tak lebih dari 4 x 10 meter ini. Sebetulnya aku rindu bau pengap rumah ini. Dari dalam kamar, muncul bapak yang mengenakan peci putih berkain sarung lusuh.

Mata kami beradu untuk beberapa saat. Bukan saling memelototi, melainkan mencakapkan kerinduan. Bapak semakin tua saat kulihat warna rambutnya yang makin memutih juga kerutan di wajahnya yang kelihatan menanggung beban sangat berat. Membuncahlah tangis bapak saat kami berpelukan.  

Suasana makan malam sedikit kaku. Cuma ibu yang menceritakan perihal suramnya desa dan surat-surat yang tak lagi dikirimkan kepadaku karena mas Jantul, tukang pos satu-satunya di desa,  ditemukan tewas setelah motornya terperosok ke jurang. Bapak seperti biasa tak banyak bicara. Usai meneguk teh tawarnya, ia kembali masuk ke dalam kamar. Tapi kurasakan ada sesuatu yang begitu menggelisahkan dirinya.

“Bapak sakit Bu?’

“Sudah seminggu kepalanya pusing. Maklum sudah tua,” jawabnya sambil membereskan piring-piring kotor. Aku beranjak ke teras rumah. Sisa malam kuakhiri dengan menikmati kopi tubruk di bale bambu. Sepi. Dingin setelah hujan tadi sore. Desa ini seperti tak berpenghuni. Desau angin membuat suasana terasa beda. Tak ada suara tonggeret, jangkrik atau tokek yang dulu sering kumaki karena mengganggu tidur. Ini bukan lagi desa yang kukenal. Dari jauh kulihat cahaya berkelap-kelip, ratusan jumlahnya. Mereka bergerak ke arah rumahku.

“Kunang-kunang yang aneh”. Perasaanku mendadak gusar. Sementara kulihat, bulan nyaris penuh. Besok purnama. Darahku berdesir. Bulu kudukku merinding. Dari kegelapan muncul sosok besar dengan postur tubuh yang sangat kuhapal, berjalan mendekati rumah. Ki Darpo!

Deg, jantungku berdegup kencang! Tanpa kusadari Bapak sudah berdiri di sampingku sambil menenteng parang yang matanya begitu tajam mengilat.

“Setiap malam sebelum purnama, iblis itu akan datang untuk meniduri ibu sebagai syarat menjadi lurah. Maafkan bapak yang terlalu pengecut dan tak pernah memberi tahumu demi mempertahankan hidup. Tapi kali ini aku akan melawan. Apa pun yang terjadi, malam ini kau harus kembali ke Jogjakarta dan lupakan ibumu.” ucapnya lirih.  

Kepalaku seperti dihantam batu cadas mendengar ucapan Bapak. Sungguh susah untuk aku percayai. Tiba-tiba tanpa bisa kucegah, Bapak melesat ke arah Ki Darpo sambil mengayunkan parangnya. Suara denting benda tajam beradu, memecah kesunyian malam. Diakhiri dengan jeritan panjang meregang nyawa. Tak bisa kupastikan suara siapa. Tempat mereka bertarung terlalu gelap, meski hanya berjarak dua puluh meter dari tempatku berdiri. Semua berlangsung begitu cepat.

Belum hilang rasa terkejutku, dari dalam kamar ibu, berpendar cahaya kuning keemasan menyilaukan mata. Jiwaku tercerabut sekali lagi, seperti dua puluh tahun lalu. @ 

 

Bekasi 2013

 

 

—-

cerpen ini pernah dimuat di inbox email Kompas Minggu

19 thoughts on “Ki Darpo dan Peri Kunang-kunang

      • selain ke kompas, kepikiran buat kirim ke media mana lagi, Mas? Tapi kalo udah kirim ke kompas sih…mesti tunggu dalam jangka waktu tertentu sebelum dikirim ke media lain. Masalah etika aja sih. Udah dapat surel balasan dari redaksi kompas?

      • belum dapet konfirmasi dari kompas sih, tapi udah pesimis duluan …. ke media lain mungkin dengan cerpen baru….

  1. Mengalir aja ceritanya kaya dongeng, dan kepalaku sibuk menerka-nerka seperti apa endingnya. Tapi tebakanku meleset semua, tidak sesuai dugaan, bahwa peri kunang-kunang adalah sosok ibu, namun kejutan ini tidak terlalu menyenangkan. Terlalu tiba-tiba, jadi terkesan memaksa. Mungkin saat Darpo mengunjungi Tole, ada satu momen di mana ibu bertingkah ganjil atau apalah, untuk mejembatani twist di akhir cerita. Tapi, sejauh ini, Om sigit dan bangor memang jagoan kalau bikin tulisan.

    Maaf, aku selalu sok tahu, dan maaf aku hanya bisa memberi Komentar sesuai dengan sudut pandang sendiri.

    Salam,
    adel

  2. Hmmm….. *angguk2 sok paham*
    Yes and No.

    Yes karena aku suka setiap detailnya yang khas Ade dan Oom Sigit sampai2 aku bisa mendengarkan suara “kreeek..” -nya Ki Darpo dan krosakkrosaknya.

    No karena nggak suka endingnya. Setelah membaca di titik puncak langsung dihempas gitu saja. Kenapa harus ibu? Tapi ya sudahlah, kekecewaan pembaca bukan salah penulis.

  3. Aku masih bisa jelas bedain mana tulisan Om Sigit, mana repetan Bang Ade. (Jujur, agak kebanting lho)
    Idem sama yang di atas, delivery endingnya kurang elegan. Tapi secara cerita kelas dewa deh.

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s