Home » kekisah » Pengemis Tua Itu Meminta Nyawaku

Pengemis Tua Itu Meminta Nyawaku


nenek-tua

Siang sangat panas kali ini. Matahari sedang marah. Jarum-jarum sinarnya panas menusuk ubun-ubun kepala. Aku masih duduk di halte di depan mall, berhala komersialisme yang kian ramai. Perempatan di depanku tak ubahnya tempat konser, di mana sumpah serapah dan pekik klakson mobil dan motor berebut kuasa.

Mataku masih saja tertuju pada pengemis tua itu. Kebayanya lusuh dengan robek-robek di sana-sini. Kain jariknya berwarna coklat, yang kuyakin bukan warna aslinya. Tangannya memegang tongkat dan sebuah batok kelapa. Yang paling menarik perhatianku adalah dua tusuk konde di kepalanya yang berhias rambut putihnya. Tusuk konde itu tampak menembus kulit kepalanya. Hal ini kusadari karena meski telah bertusuk konde,rambutnya tetap awut-awutan bertaburan digoyang angin.

Lampu perempatan baru saja memerah. Pengemis tua itu dengan tertatih-tatih menghampiri perempatan. Langkah-langkah seoknya masih terselamatkan tongkatnya. Sebuah mobil mewah mengilat yang berhenti tepat di garis penyeberangan adalah sasaran pertamanya. Dia nampak mengetuk jendela mobil dan mengulurkan batok kelapa di tangan kirinya. Lama dia menunggu jendela kaca itu membuka. Namun sampai lampu hijau menyala, mobil itu bergeming. Pengemis tua itu mundur ke pembatas jalan, lalu menepi menunggu lampu kembali memerah. Mobil mewah tadi melesat saat lampu menghijau. Belum sepelemparan tombak mobil itu melaju, dari arah kanan melesat sebuah metromini yang menerobos lampu merah. Benturan tak terelakkan. “Brakk !!” Aku terkesiap melihatnya. Sementara dari pinggir lampu merah pengemis tua itu terkekeh-kekeh puas.

*

Lain hari kulihat pengemis itu mengubah modus pengemisan. Dia kulihat baru turun dari bus kota yang penuh sesak. Tubuh rentanya terhuyung saat kernet bus itu mendorongnya keluar dari dalam bus. Uang recehnya jatuh bertebaran. Mungkin hanya sekitar 5 pecahan Rp. 500,- yang ada di batok kelapanya. Bus kemudian melaju perlahan. Tubuhnya nampak miring ke kiri dan ke kanan karena umurnya yang semakin tua. Dari jauh terus kulihat bus kota itu. Hatiku was-was ketika tiba-tiba kulihat ada api memercik dari belakang bus kota itu. Lalu semua berlangsung singkat, api berkobar melahap bus naas itu. Jerit pekik mengenaskan terdengar. Penumpang yang di pinggir pintu berlompatan keluar menyelamatkan diri. Tak berapa lam terdengar dentuman yang dahsyat. Aku spontan bertiarap. Bus itu hancur berkeping-keping. Dari sudut pandangku kulihat pengemis tua itu tertawa. Kekehnya mendirikan bulu remangku.

Dan siang ini kulihat pengemis tua itu duduk di pintu keluar mall. Tongkatnya dia tegakkan sementara batok kelapanya dia taruh di depan tempatnya duduk. Berulang kali kaki-kali pongah melangkahinya tanpa hirau iba. Pengemis tua itu masih melantunkan tembang-tembang kuno nan mistis. Senyumnya masih saja menghiasi wajahnya yang keriput. Dari arah mal kulihat dua orang Satpam menghampirinya. Kudengar suara cekcok  dan suara bentak Satpam yang semakin meninggi. Batok kelapa pengemis itu melambung ke atas terhajar kaki kuat Satpam. Pengemis tua itu akhirnya menyerah, dia beranjak dan mengambil batok kelapanya yang hancur menimpa jalan dan terlindas mobil yang melintas. Tak lama berselang, aku mendengar suara tembakan. “Dor..Dor !!”. Kemudian terdengar raung mesin motor dipacu maksimal. Dua sosok tubuh tersungkur. Dadanya bolong ditembus peluru perampok yang akan merampas tas pengunjung mall. Dua Satpam yang malang. Dadaku berdesir. Sayup kudengar kekeh tawa pengemis tua itu.

*

Malam kian larut, perempatan jalan sudah tak berpenghuni. Aku masih duduk sendiri di halte di depan mall itu. Dalam remang lampu kota, dari seberang jalan kulihat pengemis tua itu berjalan ke arahku. Aku bergidik saat dia semakin mendekatiku.

“Nak, aku mau nyawamu,” suara pengemis tua itu terbata-bata.

“Maafkan aku Nek, aku tidak mempunyainya”

 

 

—–

bekasi, 11 maret 2013

 

*) ilustrasi pengemis tua ini terinspirasi dari tokoh Sinto Gendeng dalam novel silat Wiro Sableng Pendekar Kapak Nagageni 212 karya Bastian Tito

**) gambar dicomot dari sini

 

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s