Home » kekisah » Dito Bisa Terbang

Dito Bisa Terbang


child-angels-5

 

“Dito pengen bisa terbang!!”

Mata Dito terpejam, tangannya terkepal di udara. Begitu ekspresinya setiap kali ditanya apa cita-citanya. Bocah gembil itu lalu bergegas lari, tangan kanannya yang terkepal dia condongkan ke depan dan mengambil posisi seperti Superman yang sedang menembus langit.

“Bagaimana caranya bisa terbang ya, Pa?”

Aku selalu berdesir setiap Dito menanyakan hal ini. Hampir setiap malam sebelum tidur, selepas dongeng tentang Gatotkaca atau Superman selesai kulantunkan di telinganya, dia selalu menanyakan hal itu. Aku hanya bisa mengelus rambutnya dan mencium pipinya lembut.

“Suatu saat nanti Dito pasti bisa terbang seperti Gatotkaca, asal rajin belajar ya!”

Dito tersenyum, lalu perlahan matanya mengatup. Dia pun terlelap dalam mimpi-mimpinya.

Obsesi Dito untuk bisa terbang tak bisa ditahan. Setiap hari dia menongkrongi film Superman dan buku-buku komik Gatotkaca. Dia tak pernah kehabisan ide untuk mewujudkan obsesinya. Dia pernah membuat sayap seperti yang dimilliki Gatotkaca yang dibuat dari kardus, lalu dia loncat dari pohon kersen yang merindangi halaman. Ulahnya itu berhenti, saat kepalanya bocor terkena batu di depan rumah.

Suatu hari Dito aku ajak menengok neneknya ke Jogja dengan menaiki pesawat terbang. Dia sangat senang bukan kepalang. Sejak dua hari sebelum berangkat, dia selalu menanyakan kapan kita akan berangkat. Tibalah hari keberangkatan. Dia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Dia begitu takjub saat melihat burung alumunium raksasa terhampar di depannya. Mulutnya penuh decak saat tubuhnya memasuki perut pesawat. Dia perhatikan semua sudut pesawat. Pramugari yang ramah terus menggodanya. Pesawat akan lepas landas, dia mulai gemetar saat pesawat mulai mengangkasa. Sepanjang perjalanan, matanya bercahaya. Aku sangat bahagia melihatnya.

Pesawat yang kami tumpangi terus melaju menembus pekatnya awan. Dito terus mengagumi bentuk-bentuk awan dari jarak yang dekat. Kepalanya selalu lekat di jendela, melihat bumi yang kian jauh dari pandangannya. Entah mengapa perasaanku lain hari itu . Mungkin hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Aku peluk Dito erat, saat tawanya membuncah ketika badan pesawat bergetar menembus mendung yang semakin gelap. Cuaca hari itu begitu buruk. Goncangan pesawat semakin sering kurasakan, namun hal itu malah semakin menambah kegembiraan Dito. Hatiku semakin berdesir, saat pesawat tiba-tiba turun tajam. Jerit teriak membahana. Kupeluk Dito erat, sangat erat.

“Papa, ayo sini!” suara Dito lantang mengajakku meluncur di angkasa. Sayap-sayap emas tumbuh di punggungnya, begitu pula punggungku. Kami pun berkejaran, melewati awan-awan putih nan empuk dan langit yang biru.

Sementara nun di bawah sana, asap hitam mengepul dari sebuah pesawat yang naas.

 

——–

Pelaihari, 5 maret 2013

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s