Home » kekisah » Berita di Televisi Keesokan Pagi

Berita di Televisi Keesokan Pagi


ears

Pada awalnya hanya hening yang dapat diraba gendang telingaku. Tenang bagai malam tanpa bintang, tanpa angin namun tetap dingin. Aku tuli sejak lahir. Gendang telingaku utuh, tak ada yang koyak sezarah pun. Sayang dia hanya mampu berdentum pelan namun tak ada gelombang suara yang dapat kutangkap. Ibuku yang pertama kali tahu kekuranganku itu. Saat itu usiaku baru dua tahun. Teriakan Ibu tak kuhiraukan, saat sebuah sepeda motor kencang melintas di depan rumah tepat waktuku berlari mengambil mainan yang jatuh. Beruntung sepeda motor itu sempat menghindar, hingga nyawaku masih aman bersemayam di tubuh ini.

Sejak saat aku mulai diperlakukan istimewa. Ayah dan ibuku mengajari aku membaca dan menulis lebih cepat dibanding kakak-kakakku. Umur tiga tahun aku sudah lancar membaca dan menulis. Komunikasiku dengan orang di sekitar menjadi lebih lancar. Buku-buku, koran dan majalah kubabat tanpa belas kasihan. Diam-diam aku pun mempelajari gerak bibir. Mula-mula kupelajari gerak bibir anggota keluarga, pembaca berita televisi, penyanyi hingga bintang sinetron di televisi. Setelah semua kupahami, aku mulai mempelajari gerak bibir dan kucing, anjing, ayam dan segala binatang yang kutemui. Aku mengerti dan paham dengan apa yang mereka ucapkan. Hanya aku yang tahu kelebihanku yang satu ini. Lidahku sehati dengan telingaku. Semua terasa kelu dari pangkal hingga ujungnya. Aku tak bisa bertutur apa pun. Hanya sunyi yang bisa kulagukan, dan hanya aku yang bisa mendengarkan merdunya.

Sekolah kuselesaikan di sekolah biasa. Prestasiku pun paling menonjol dibanding teman-temanku. Satu kekurangan yang tak bisa kututupi adalah lisan. Aku bisa mengerti apa pun yang dikatakan orang sekeliling tapi tak bisa membalas dengan ucapan. Aku selalu membawa buku kecil sebagai pengganti lidahku. Setiap tutur kata yang ingin kulontarkan kutulis dalam buku itu. Ribet memang, namun teman-temanku mengerti keadaanku. Semua berjalan lancar hingga aku kuliah kini.

Lantas semuanya berubah. Kejadiannya bermula malam itu. Tiba-tiba saja aku terbangun. Telingaku bergetar lembut. Ada bisikan yang pelan-pelan memenuhi gendang telingaku. Suara-suara itu semakin keras terdengar.

“Aku harus masuk ke dalam rumah ini, nyawa Pak Kusnan harus aku ambil malam ini. Sesuai pesan Bos.”

Aku tercekat, ada yang bermaksud jahat dengan ayahku. Kuikuti sumber arah suara. “Dari balik jendela kamar ini,” pikirku. Perlahan kunyalakan lampu kamar dan kubuka jendela kamarku. Kulihat sesosok bayangan berkelebat. Dia lari terbirit-birit, aku meloncat dari jendela kemudian bermaksud mengejarnya. Aku menghentikan lariku saat sadar bahwa orang itu tak mungkin kukejar lagi. Di belakang kulihat ayah dan kakakku menyusulku.

“Ada apa, Bram ?” tanya ayahku. Aku terdiam tak bisa menjawab apa-apa. Lalu kami pun kembali ke rumah.

Sejak hari itu hidupku berubah. Meski aku masih tetap tak bisa mendengar apa yang diucapkan lidah dan berkata-kata dengan menggunakan lidah. Namun aku bisa mendengar kata hati orang di sekelilingku. Telingaku semakin bising dengan berbagai bisikan. Di kendaraan umum aku bisa mendengarkan pikiran-pikiran cabul laki-laki saat ada wanita seksi menaiki bis, atau niat jahat dari copek dan penodong yang ada di dalam angkutan umum. Pada mulanya aku merasa terganggu, namun aku mulai menggunakan kemampuanku ini untuk menolong orang. Berkali-kali aku menggagalkan pelecehan seksual di angkot atau pencopet yang terpaksa kabur karena niat busuknya tercium.

Suatu hari bus yang aku tumpangi melintasi Gedung Parlemen, tempat yang paling aku benci. Aku sering menonton sidang parlemen yang disiarkan di televisi. Semua yang diucapkan di lidah anggota dewan, meski tak dapat kudengar tapi bisa kupahami dari gerak bibirnya, semua adalah basa-basi. Aku bisa membaca apa yang ada di dalam hati mereka. Semua hanya tentang komisi proyek, uang dan perempuan seksi. Tak sampai sepuluh menit segera kumatikan televisi.

Bus yang aku tumpangi berhenti sebelum Gedung Parlemen. Ribuan demonstran mengepung pintu pagar gedung. Mereka memblokir jalan. Kemacetan meraja lela. Aku pun turun dari bus. Ratusan polisi bersenjata lengkap bersiaga. Aku bisa mendengar apa yang menjadi jerit hati para demonstran ini, yang kutaksir adalah dari kalangan buruh yang memperjuangkan upah yang layak bagi mereka. Keadaan sudah cukup genting. Demonstran mulai merangsek ke pintu masuk Gedung. Batu-batu mulai beterbangan ke arah polisi. Aku terpaksa menepi bersembunyi di dalam parit. Polisi mulai menembakkan gas air mata, dan semprotan air dari mobil pansernya yang pongah. Demonstran terus menyerbu, mereka semakin bersemangat melawan kesombongan penguasa. Polisi mulai terdesak. Pintu pagar gedung parlemen yang kokoh tinggi mulai goyah. Sekian detik sebelum pintu pagar itu jebol, sayup kudengar suara bisikan.

“Mereka harus dihabisi.”

Suara itu datang dari arah polisi berbadan tambun yang menjaga dari dalam gedung. Lalu kulihat polisi itu berbicara dari handy-talkie-nya. “Tembak!” gerak bibir itu tertangkap mataku. Lalu kulihat polisi menyiapkan senjatanya. Aku tak bisa diam lagi. Entah ada kekuatan darimana, aku berteriak sekuat tenaga.

“Aaaaaarrrrgghhhhhhhh!!”

Tiba-tiba kulihat semua berhenti. Detik waktu kurasa tak bergerak lagi. Aku maju menuju barisan polisi dan membengkokkan laras senapannya, lalu bergegas pergi.

Semenit kemudian, ribuan demonstran masuk  dan membakar gedung parlemen.

Berita di televisi keesokan pagi.

Jakarta (13 Februari 2013) – Pelaihari (28 Februari 2013)

ilustrasi dicomot dari sini

6 thoughts on “Berita di Televisi Keesokan Pagi

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s