Home » kekisah » Tersesat

Tersesat


Semua-Pintu-Surga

‘Blam!”
Pintu keras terbanting. Mataku terbuka. Di manakah aku?. Aku meraba-raba sekeliling. Hanya ada lantai dingin dan kasar.

*
”Cling!”
Tiba-tiba lampu menyala. Terangnya menembus retina. Aku langsung mengernyitkan mata. Kupandangi segala penjuru mata angin. Putih. Hanya satu warna yang menghiasi. Ruangan ini begitu luas. Aku seperti berdiri di tengah samudera tak bertepi.

*
Aku bangkit, lalu kakiku mulai mengukuri lantai dingin ini. Tiba-tiba muncul pintu-pintu berwarna-warni. Satu, sepuluh, seratus, dan terus bertambah hingga tak terhingga. Lalu kulihat mulai banyak orang. Semua terlihat seusia. Tak ada anak-anak atau pun para lanjut usia. Laki-laki atau perempuan hanya dibedakan oleh rambutnya. Perempuan menguraikan mahkota kepalanya dan laki-laki berkepala licin. Wajah mereka terlihat kebingungan. Ada yang wajahnya gelap ada pula yang bercahaya. Orang-orang itu mulai bergerak maju. Ada yang bergerak sendiri ada juga yang berjalan bergerombol, Sementara aku masih berdiri memaku kaki. Menunggu dan mengamati apa yang akan terjadi.

*

“Pilihlah pintu-pintumu sesuai kata hati. Lalu masuklah ke dalamnya. Inilah pintu-pintu menuju surga.

Tiba-tiba terdengar suara keras menggema. Semua orang terdiam, mata mereka menjelajah, mencari dari mana suara itu berasal. Di depanku kulihat seorang perempuan berambut ikal mayang berjalan perlahan. Dia meraih gagang pintu yang tak jauh dari hadapannya. Begitu pintu dibuka terciumlah bau busuk dan udara panas menyergap. Lalu muncul sebuah tangan raksasa dari api, yang kemudian menarik wanita tersebut. Jerit memilukan terdengar begitu mengiris hati. Lalu, “Blam!!”, pintu itu tertutup. Lantas perlahan menghilang. Aku terkesiap, nafasku tercekat. Nerakakah tempat itu ?

Di lain penjuru, kulihat bayang-bayang berlesatan. Mereka bergerak cepat membuka pintu yang dipilih. Harum semerbak tercium saat pintu terbuka. Terlihat pemandangan indah, sungai-sungai mengalirkan susu dan anggur, di dalam istana nan megah. Dua orang bidadari menyambut orang-orang itu. Lalu pintu tertutup dan perlahan menghilang. Beruntungnya mereka, pikirku. Surga.

Keadaan menjadi kacau, orang berebut memilih pintu. Namun kaki-kaki mereka seperti terseret menuju pintu-pintu dengan sendirinya. Ada yang berkeras melawan, hingga merangkak-rangkak walau sia-sia. Tak sedikit yang beterbangan masuk ke pintu-pintu. Aku masih saja terdiam.

*

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah tepukan di punggungku.

“Numpang tanya, lihat pintu saya?”

Aku yang masih dalam kebingungan menggeleng. Lalu laki-laki itu beranjak pergi. Kakinya terlihat tertarik ke sebuah pintu. Dia mencoba melawan sekuat tenaga. Namun sia-sia, sebuah pintu terbuka. Tak lama tubuhnya terhisap ke dalam kobaran api. Jeritnya memekakkan telinga.

Laki-laki itu sepertinya begitu aku kenal. Suaranya sering aku dengar di tengah malam. Aku coba mengumpulkan semua ingatan, lembar demi lembar, lapis demi lapis. Aku mulai mengingatnya.

“Astaga, Tuhanku !!”

Tak salah lagi, laki-laki itu tuhan yang setiap saat aku sembah. Aku mencoba berlari menjauhi kerumunan. Berlari ke belakang menuju pintu masuk ruangan ini. Pintu hitam itu begitu kokoh. Aku mencoba mendobrak sekuat tenaga.

“Buka, bukaaa….!!”

Jeritku tertelan hiruk pikuk. Pintu kehidupan itu tak pernah akan terbuka.

Tiba-tiba kakiku mulai terseret. Sebuah pintu terbuka.

Menganga.

(bekasi, 21 januari 2013)

——————–

Diangkat dari fiksimini terbaik kategori humor Gathering Nasional Fiksimini 2011

TERSESAT – “Numpang tanya, lihat pintu saya?”

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s