Home » kekisah » Pejuang Pecundang yang Pulang

Pejuang Pecundang yang Pulang


MD002200

“Dor!!”

Aku melesat, begitu pistol start menyalak. Berkelit di antara jutaan peserta, aku terus melaju. Sesekali aku harus melumpuhkan peserta lainnya. Siku dan kaki saling tebas, lalu terdengar suara-suara jatuh bergelimpangan. Aku terus melesat menuju satu arah.

Sebutir telur.

*

Sampailah aku di sebuah kamar. Lampu remang-remang beradu dengan gelap. Seorang perempuan muda menangis di sudut  kamar. Bajunya compang-camping tak mampu menutup auratnya yang menyembul di sana-sini. Sepuluh menit sebelumnya dia tak berdaya. Tangan dan tubuh lelaki itu terlalu kuat ditentangnya. Bukan hanya sekali ini saja dia tak berdaya. Sudah lebih dari lima kali dirinya ternodai. Kini dia hanya bisa menyesali, mengapa semua terjadi.

Aku hanya tercenung, menatap matanya yang kian cekung.

*

Yang dia takutkan selama ini akhirnya terjadi. Pagi itu perempuan rapuh itu keluar dari kamar mandi. Tangannya masih menggenggam tespack. “Positif,” katanya dalam hati.

“Kamu kenapa, Nak. Sakit?” tanya seorang wanita tengah baya. Mungkin ibunya.

“Masuk angin, Mak. Kemarin sepulang sekolah aku kehujanan,” alasannya.

Lalu dia bergegas menuju kamarnya. Menelungkupkan tubuhnya ke kasur apek. Air mata tumpah membasahi bantalnya.

Sementara itu aku merasa terus tumbuh, dari segumpal darah menjadi segumpal daging. Terjebak dalam tubuh perempuan itu.

Aku masih saja tercenung. Seperti terkena tenung.

*

Aku tak bisa menahan laju tumbuh tubuhku. Mulai ada denyut-denyut halus di tengah tubuhku. Sementara kurasakan tubuh perempuan itu ikut mengembang. Di sekolah dia lebih suka menyendiri. Di saat istirahat teman-temannya pergi ke kantin, dia berdiam di kelas. Tatap matanya kosong, meski penuh air mata yang kadang jatuh tak bisa ditahan. Dia semakin bingung. Aib ini semakin sulit ditutupi.

Aku semakin tercenung. Meringkuk dalam liang di tubuhnya.

*

Suasana kamarnya malam itu sungguh mencekam. Dia masih saja menangis. Tangannya bergetar saat menulis sebuah pesan.

Untuk ayah yang aku banggakan.

Maafkan, Neng tak sanggup mengandung cucumu.

Selesai menuliskan pesannya, dia menggulung mukenanya. Mengikatkannya pada sebatang kayu di langit-langit kamarnya.

Aku masih tercenung, tubuhku bergoyang-goyang dalam tubuhnya yang tergantung.

*

Malam itu juga, aku pulang. Seorang pecundang yang harus kembali berjuang. Menyingkirkan jutaan saingan.

Demi sebutir telur.

________

bekasi, 20 januari 2013

 

7 thoughts on “Pejuang Pecundang yang Pulang

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s