Home » kekisah » Perceraian Dini

Perceraian Dini


cerai

”Bapak mau kawin lagi?!!” Mas Jati terperanjat saat kabar itu kusampaikan.

”Sstt… Jangan keras-keras Mas. Nanti Bapak bangun,” kataku.

Kulirik Bapak dari jendela bangsal. Lelaki renta itu nampak pulas tertidur. Bibirnya menyunggingkan senyum. Selang infus masih tertancap di lengan kirinya. Sudah dua minggu Bapak dirawat di rumah sakit ini. Tekanan dan gula darahnya tak terkendali. Usianya yang sudah 83 tahun menambah berat sakitnya.

*

Sehabis makan pagi, biasanya Bapak minta diantar di taman di tengah rumah sakit. ”Cari angin,” katanya.

Kudorong kursi roda Bapak menyusuri lorong rumah sakit yang lembab. Aroma obat bercampur bau tembok menyesaki dada.

”Tinggalkan aku,” pesan Bapak.

Aku mengiyakan, lalu bergegas berjalan-jalan mencari koran dan sarapan pagi. Sepenghisapan rokok kemudian aku kembali ke taman. Kulihat Bapak masih tetap di posisi saat kutinggalkan tadi. Mukanya terlihat cerah. Tangannya melambai ke arah bangsal di lantaj dua seberang taman. Seorang nenek berkursi roda tampak membalas lambaian tangan kakek. Wanita tua yang gagal menyembunyikan kecantikannya di masa muda.

”Kita kembali ke bangsal Pak, matahari sudah tinggi,” bujukku yang dibalas anggukan.

*

Aku dan Mas Jati duduk di teras bangsal. Sudah setengah jam Bapak dan Ibu di dalam. Mereka terlibat perbincangan serius.

“Aku ini sudah tua, Jeng. Mungkin hidupku pun tak akan lama lagi. Berilah aku kesempatan mengikuti yang dicontohkan Nabi dan para Kiai. Kumohon, Jeng.”

“Kita sudah menua bersama-sama, Mas. 50 tahun sudah mendampingimu dalam suka dan duka. Apalagi yang kau harapkan dariku, Mas?”

“Keikhlasan.”

Sesaat suasana menjadi sepi. Suara isak Ibu pecah juga akhirnya. Aku dan Mas Jati menahan nafas, namun airmata tak kuasa bertahan di pelupuk mata.

“Ceraikan aku, Mas!”

“Jeng…”

Ibu menghambur keluar bangsal. Aku dan Mas Jati terkesiap, lalu memeluknya.

“Ibu…”

“Maafkan Ibumu, Nak.”

Setelah bergantian memeluk aku dan Mas Jati, Ibu berlalu pergi.

*

Pagi itu gerimis turun mengiris-iris. Aku mendorong kursi roda Bapak ke taman tengah rumah sakit. Kali ini aku parkir kursi roda di lorong bangsal dekat pohon tempat biasa Bapak menikmati matahari pagi. Bapak menyuruhku pergi mencari surat kabar hari ini. Wajah Bapak nampak berseri-seri. Bola matanya terus tertuju ke lantai dua, tempat wanita senja cantik itu di rawat. Sepi, tak seperti biasa.

Lima belas menit kemudian aku kembali. Kulihar Bapak menitikkan air mata. Wajah cerahnya tadi pagi sirna. Tandas tanpa bekas.

“Ada apa, Pak ?” tanyaku curiga.

Kulirik bangsal di lantai dua. Sepi tak berpenghuni.

“Wanita itu lebih memilih Tuhannya. Dia meninggal semalam.”

Air mata ayah kembali tumpah. Perlahan kudorong kursi roda kembali ke bangsal.

*

Aku tak tahu apa yang sedang bergolak di hatiku. Perasaan tak tega melihat Bapak berduka namun ada juga semburat suka, Bapak tak jadi kawin lagi.

Bergegas aku menuju rumah. Ibu harus tahu kabar ini. Sesampainya di rumah, aku melihat Ibu sedang mengemasi baju-bajunya di kamar. Setelah mencium tangannya, kusampaikan kabar itu.

“Bapak tak jadi kawin lagi, Bu.”

Sesaat Ibu terpaku. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Air mata mulai meleleh, membelah keriput di wajahnya. Sambil mengusap lembut kepalaku, Ibu berkata;

“Coba kau baca pesan ayahmu semalam, Nak.”

Segera kuraih handphone Ibu. Sebuah pesan pendek dari nomor ayah tertera di sana.

Jeng, aku tak bisa menghalangi permintaanmu. Hari ini telah jatuh talakku tiga

(bekasi, 13 januari 2013)

ilustrasi dicomot dari http://nesloo.blogspot.com

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s