Home » kekisah » Sebuah Cerita Cinta yang Gagal Dituliskan

Sebuah Cerita Cinta yang Gagal Dituliskan


image

Umurnya tak lagi muda. Rambutnya menghadapi dilema, tumbuh memutih atau gugur ke bumi. Dia hidup sendiri di sebuah rumah mungil di sudut kota. Hari-harinya dihabiskan di ruang kerja atau di perpustakaan kota. Menulis sajak atau prosa.

*

”Aku lebih pantas jadi nenekmu dibanding jadi kekasihmu” Perempuan tua itu masih tak percaya.

”Aku ingin mencintai hatimu, bukan tubuhmu” Lelaki muda itu masih mencoba meyakinkan.

Perempuan itu tersenyum. Sengat cinta kadang menyakitkan namun lebih sering memabukkan.

”Apa yang kamu harap dari hatiku? Hati itu air di daun talas. Dia bisa bergulir kesana-kemari. Tak ada hati yang teguh, karena Tuhan maha membolak balikkan hati”

” Bukankan tak ada laut yang tenang. Bukankah setiap pelayaran membutuhkan goncangan?. Izinkan perahuku berlayar di samudera hatimu”

”Ah… Kamu masih terlalu muda. Setiap pelayaran mempunyai tujuan. Dermaga tempat bahagia kelak kau labuhkan. Bahkan cinta saja tak selalu membahagiakan”

”Tak usah kau jawab sekarang, Sayang. Perahuku siap mengarungi samudera hatimu kapan saja. Dan perahuku rela karam di dasarnya”

*

Perempuan tua itu tersenyum mengingat peristiwa tadi siang di perpustakaan kota. Damar, lelaki muda usia itu tidak bercanda. Dia bisa tahu seorang berdusta atau jujur berkata dari gelinding bola matanya. Damar tenang mengungkapkan rasa. “Apa yang dia harapkan dariku”, pikir perempuan tua itu.

Tiga puluh sembilan tahun lalu, dia pernah jatuh cinta. Randu nama lelaki beruntung itu. Dia koordinator aksi mahasiswa kala itu. Kondisi Jakarta sedang genting. Mahasiswa turun ke jalan menentang pemerintah yang membiarkan penjajahan dalam bentuk modal asing yang menyerbu negeri. Sumber daya alam diagunkan demi segepok dollar atau yen utang, yang kemudian habis dibagi beberapa orang saja.

Sore itu, 12 Januari, terakhir kali dia bertemu Randu.

”Menur, 3 hari ke depan aku akan konsentrasi dalam aksi. Perdana Menteri Jepang akan lagi datang ke negeri ini. Memberi mimpi dan membawa minyak kita pergi. Mahasiswa akan memenuhi jalan-jalan Ibukota”.

Perempuan bernama Menur itu memeluk Randu lama sekali.

”Hati-hati, Sayang. Aku akan menunggumu. Aku rela menjadi cintamu yang kedua setelah Indonesia”

Tiga hari kemudian huru-hara melanda kota. Warga menjarah apa saja yang berstempel Jepang atau Amerika. Asap membumbung di segala penjuru Jakarta. Dan sejak hari itu Randu tak pernah kembali.

*

Perpustakaan kota semakin sepi sore itu. Buku-buku berbaris menua bersama waktu di rak buku. Seperti muda-mudi tak berkasih, membuang waktu di malam Minggu, menunggu tangan-tangan jodoh yang keliru menjemputnya.

Menur duduk di pojok ruang baca. Matanya tajam menatap Damar.

“Apakah hatimu sudah siap kujatuhi perahuku ?”

Menur tersipu-sipu.

“Mengapa hatiku yang kau pilih menjadi samudera pengembaraan perahumu, Damar ?”

“Karena hanya di hatimu, aku melihat dermaga tempat melabuhkan bahagiaku”

Menur terdiam sejenak hatinya meragu. Hatinya bergelombang, menerjang semua rasa yang dia punya. Sekali lagi dia membaca arah gelinding bulir mata Damar. Lalu dia terdiam.

“Bagaimana , Sayang ?. Layar sudah kukembangkan”, kata Damar merayu.

“Damar, dermaga di hatiku masih menunggu. Ada perahu yang tertambat di sana, menunggu sang nahkoda pulang ke buritan”

Kali ini Menur tak lagi ragu. Dia mulai menghapus nama Damar di layar laptopnya. Sore itu, dia gagal lagi menulis cerita cinta.

*

Sementara itu di kaca rak buku yang kusam, Menur melihat bayangan Randu tersenyum penuh rindu.

(bekasi, 12 januari 2013)

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s