Home » kekisah » Pelarian Mimpi

Pelarian Mimpi


Rasanya baru beberapa jenak aku terlelap. Ketika tangan-tangan raksasa itu mencemplungkan tubuhku dalam terowongan. Begitu derasnya aku meluncur melewati ruang dan waktu. Mungkin ini yang dinamakan mimpi. Sesuatu yang baru pertama kali kualami.

*

Istana Negara begitu lengang. Lampu-lampu hanya menyala di sudut-sudut luar. Beberapa tentara hilir mudik berkeliling pagar istana. Sebagian lainnya tampak asyik bermain kartu sambil. Menunggu giliran jaga. Di kamar utama, Presiden tertidur sendirian. Ibu Negara tak ada di sisinya. Dia sedang menginap di rumah anaknya. Cucunya yang kedua baru saja lahir. Dengkur presiden menggema di kamarnya yang mewah. Sejak dia mengeluarkan larangan bermimpi, dialah satu-satunya orang yang bisa bermimpi. Mimpi apa saja, dia bisa beli.

**

Monitor pengawas di Markas Sandiyuda berkedip-kedip. Seorang penjaga terbangun dari lelapnya. Dia begitu panik setelah melihat layar monitor. ”Ada pemimpi!”

*

Brukk!! Aku terjatuh begitu keras. Ruangan apa ini?, pikirku. Sekilas kulihat tubuhku, berbaju prajurit dengan sebilah pedang menggantung di pinggang. Aku teringat gadis penjual mimpi yang kutemui tadi pagi. Lalu teringat demonstrasi menuntut kebebasan bermimpi. Misiku satu, membebaskan negeri. Kupandangi sekeliling ruangan yang sepi. Kuedarkan mata ke sekeliling ruangan.  ”Istana!”

*

Terjadi kesibukan luar biasa di Markas Sandiyuda. Di ruang pengawasan mereka bersiaga. Komandan tampak mondar-mandir mengawasi dan mengikuti kerja anak buahnya.

”Lacak sinyalnya, ikuti jangan sampai lolos.”

*

Aku mengendap dengan pedang terhunus. Kususuri sudut demi sudut ruang. Langkahku terhenti di depan kamar besar. Ada suara dengkur teratur di sana. Pelan kubuka pintu yang ternyata tak terkunci. Presiden.

“Ini saatnya,” pikirku.

Aku angkat pedangku tinggi-tinggi di atas dadanya. Belum sempat kuhunjamkan pedangku, terdengar suara sirene meraung-raung. Laki-laki tambun itu terbangun, pedangku menghunjam kasur. Sial !.

“Siapa kamu ?” teriak Presiden.

Aku menyadari bahaya mengancam, dari luar istana terdengar derap prajurit menuju ke arahku. Aku berlari menembus kaca jendela kamar istana. Lalu memacu kaki, meloncati tembok istana. Kudengar desing peluru, di kanan kiriku. Aku nekat meloncat dari atas pagar istana yang menjulang.

Kkrrrk !!. Aku meringis kesakitan, tapi kutahan. Lalu kembali lari dan lari meski terseok-seok. Sementara dari belakang prajurit istana terus memburuku.

Prajurit kurasa semakin dekat saja, suara dengusnya kudengar semakin ganas. Aku sudah berpikir untuk menyerah, ketika kulihat seorang gadis kecil, duduk di halte bus.

“Gadis penjual mimpi!”

Aku segera menujunya. Gadis itu mengulurkan tangannya dan memberikan sebutir pil.

“Minum ini, cepat!”

Segera saja kutelan, lalu aku merasa terperosok ke dalam lubang yang berputar-putar. Aku semakin deras meluncur.

*

Suara sirene meraung membelah malam. Mobil-mobil Sandiyuda berpacu menuju sebuah lokasi.

“Sinyal semakin kuat, Komandan.”

“Ikuti terus, kita sergap dia malam ini juga,” sang komandan menyeringai puas. Prajurit bersiaga menyiapkan senjatanya.

Laju mobil berhenti di depan sebuah gang. Puluhan prajurit Sandiyuda bersenjata lengkap turun.

“Maju!” perintah komandan.

Derap sepatu memecah malam yang kian tua. Mereka menuju ke satu rumah. Tiba-tiba.

“Komandan !, sinyal menghilang!”

*

Semenit yang lalu, aku terbangun. Keringat membanjiri tubuhku.

“Fyuhhh…. nyaris saja.”

Gadis penjual mimpi menyelamatkanku.

(bekasi 5 januari 2013 – jakarta 11 januari 2013)

 

ilustrasi dari bahamaspress.com

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s