Home » kekisah » Gadis Penjual Mimpi

Gadis Penjual Mimpi


Gadis kecil itu menatapku. Sayu tapi dalam. Tubuhnya tampak layu. Berbaju seadanya namun tetap ayu.

“Ayolah Tuan, belilah sebotol saja !”

Gadis itu terus menatapku. Aku mencoba menyelami dalam relung matanya. Katanya sesaat lalu.

“Aku penjual mimpi. Mimpi bukan sembarang mimpi. Tak serupa jualan politisi”

*

Kejadian itu berlangsung cepat. Tiba-tiba saja ratusan orang mengepung rumahku. Mereka berteriak, sumpah serapah tumpah ruah.

“Keluarlah, hai budak setan, atau rumahmu kami bakar !!”

Ayahku, sebulan ini menjadi buruan warga. Berawal dari mimpi, ayah menjadi nabi. Mula-mula kami sekeluarga tak percaya. Tapi sejak dia mengobati sakit ibuku hanya berbekal tongkat kayu tua, pelan-pelan kami mengimaninya.

Berbekal tongkat saktinya itu, ayah mulai mengobati tetangga kanan-kiri. Berita kesaktian ayah menyebar ke penjuru desa. Rumah kami makin ramai dengan orang-orang yang datang silih berganti. Mereka yang tersembuhkan mengimani ayah sebagai nabi. 

Berita kenabian ayah menyulut amarah Tetua Desa. Sesat, vonisnya adalah mati. Begitu fatwanya.

Massa tambah beringas. Ayah menatapku pasrah.

“Bawa tongkat ini, Nak. Jaga Ibumu. Biar ayah hadapi mereka”

Aku tak kuasa menahan tangis. Tanganku memeluk erat tubuh ayah. Lama sekali.

Belum sempat ayah keluar, pintu didobrak. Puluhan orang menyeret tubuh ayah keluar. Suara sorai mereka membahana, bercampur dengan suara golok menebas dan kayu menumbuk. Sesekali kudengar suara ayah bertakbir. Serak dan pilu lalu sayup menghilang.

Aku bergegas kabur melalui pintu belakang, menyeret Ibu yang terus menahan jerit. Lari kami menembus batas desa. Sesekali kutoleh ke belakang, asap dan api berlomba memangsa rumah kami.

**

Gadis itu kembali menatapku, sayu penuh rayu.

“Belilah, Tuan. Sekadar buat pembeli nasi bungkus, penyambung hidup hari ini”

Sepuluh tahun telah berlalu. Ibu meninggal satu tahun setelah ayah pergi. Sejak itu suara jerit ayah dan suara teriak massa terus berdengung di telingaku. Memenuhi liang kuping, mengganjal mata. Mata yang tak pernah layu

Kutatap balas mata gadis itu. Lalu tersenyum padanya.

“Ada obat tidur ?”

*** 

2 jan 2013

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s