Home » kekisah » Janji Jenglot

Janji Jenglot


*

Kisah ini bermula sepuluh tahun lalu. Saat itu malam Jumat Kliwon. Purnama begitu terangnya. Projo masih terombang-ambing tak menentu di atas bahtera di tengah samudera. Projo, seorang nelayan muda yang hidup sederhana di pesisir selatan Pulau Jawa. Tetiba dia merasa ada yang bergerak di kail yang digenggamnya.

“Ikan besar sepertinya”, gumamnya dalam hati.

Sudah sedari tadi tidak satu pun ikan yang nyangkut di pancingnya. Tarikan itu begitu kuat, Projo berjuang mati-matian mempertahankannya. Setelah 15 menit, pertarungan itu selesai. Di ujung kailnya tersangkut sebuah benda misterius yang bercahaya.

“Benda apa ini ?”.

Seperti mahluk hidup, sebesar ibu jari, bertaring dan berambut panjang. Matanya merah seperti marah kepada Projo. Projo buru-buru melepasnya dari jeratan kailnya.

“Malam jahanam !!. Sudah semalam aku di laut, tak seekor pun ikan yang nyangkut, malah benda sialan ini yang ikut”.

Matahari mulai menyembul dari ufuk timur, saat Projo mulai menepi. Benda misterius itu dibawanya serta. Orang-orang daerah itu menyebutnya jenglot. Setelah beres menambatkan perahunya, dia bergegas pulang. Mandi dan makan pagi seadanya. Lalu dia tidur, menyaur hutang semalam.

Dalam tidur siangnya ini Projo bermimpi. Seorang kakek-kakek berambut dan berjenggot panjang menghampirinya. Sambil terbungkuk-bungkuk dia berkata padanya.

“Projo, peliharalah aku. Semua keinginanmu akan aku kabulkan. Harta, tahta dan wanita itu sesuatu yang mudah bagiku. Hanya satu syarat yang aku minta. Sepuluh tahun lagi aku minta kau korbankan padaku, seseorang yang paling kau cinta. Kalau kau tak mau memeliharaku, kembalikan aku ke tengah samudera, malam nanti”

Tergeragap Projo bangun dari tidurnya. Mimpi itu begitu nyata. Buru-buru dia membuka laci, tempat dia menaruh benda misterius itu. Hatinya bimbang. Setelah berpikir sesaat, dia masukkan lagi benda ke dalam laci, lalu dia melanjutkan dengkurnya.

**

Sejak kejadian itu, hasil tangkapan ikan Projo semakin banyak. Ikan-ikan besar nan bagus selalu dia bawa sehabis melaut. Sedikit demi sedikit ekonominya membaik. Dia bisa membuat rumah yang layak. Perahunya bertambah dan otomatis hasil tangkapannya semakin banyak.

Setahun kemudian, dia telah menjadi saudagar ikan di pesisir itu. Kekayaannya semakin melimpah. Namun ada satu yang belum dia miliki. Istri. Sudah lama dia mengincar Ratih, gadis anak kepala desa. Perempuan ayu keturunan darah biru itu begitu memincut hatinya. Singkat cerita, dengan segala kekayaannya, Ratih pun jatuh cinta kepadanya. Pernikahan pun terjadilah. Pesta pernikahan termewah sepanjang sejarah desa itu, dia gelar 7 malam. Seluruh desa berpesta pora.

Lima tahun kemudian. Mertuanya meninggal. Atas desakkan semua warga, Projo ditunjuk menjadi kepala desa. Keluarganya kini tampak begitu bahagia. Istri yang cantik, dan 3 orang anak yang lucu-lucu. Harta, tahta dan wanita telah digenggamnya. Tiga tahun menjabat sebagai kepala  desa, kekayaannya semakin berlimpah. Dia begitu dicintai keluarga dan warga sekitar. Namanya pun semakin harus sampai kemana-mana. Ketika tiba waktu Pemilihan Kepala Daerah, namanya diusung salah satu partai terbesar, untuk dijadikan Bakal Calon Bupati.

***

Seminggu lagi, sepuluh tahun setelah penemuan jenglot itu. Projo mulai gelisah. Di sela-sela tugasnya sebagai bupati, dia selalu memikirkan janji di siang itu. Dia harus mengorbankan orang yang paling dicintanya. Selama ini tak pernah ada masalah dengan benda itu. Benda itu seperti benda mati, hampir tak berguna. Dia sebenarnya pun ragu, apakah kesuksesannya selama ini karena tuah benda itu atau karena Tuhan yang begitu pemurah padanya.

Dua hari kemudian, di tengah malam dia bermimpi. Kakek tua itu datang menagih janji.

“Projo, waktumu tinggal lima hari lagi”.

Projo terbangun, keringat dingin mengguyur tubuhnya. Dia begitu ketakutan. Dia pandangi istrinya yang masih pulas dan 3 anak-anaknya yang masih menikmati mimpinya.

“Haruskah salah satu dari mereka aku korbankan ?”, gumamnya dalam hati.

****

Projo begitu cinta dengan keempat anggota keluarganya itu. Hatinya melawan. Dia tak akan mengorbankan salah satu dari mereka. Setelah berpikir semalaman, dia memutuskan untuk membuang jenglot itu ke samudera.

“Ma, aku ada tugas keluar. Meresmikan pembangunan jalan di kecamatan seberang. Mungkin dua hari lagi aku pulang”

Akhirnya Projo pergi, diiringi oleh pejabat kabupaten. Malam hari setelah peresmian jalan, dia diam-diam keluar dari hotel. Tak ada yang tahu. Dia pergi ke pantai menumpang ojek. Setelah menyewa perahu, dia menuju ke tengah laut. Jenglot itu dia buang ke samudera. Tak ada perlawanan atau pun kejadian yang luar biasa. Semua berjalan lancar.

Projo pulang ke rumah dengan hati tenang. Beban yang selama ini menggunung di punggungnya telah sirna.

“Ma, aku pulang !”

Tak ada yang menyambutnya, sepi seperti tak berpenghuni. Hatinya mulai was-was. Dia bergegas menuju kamar tidurnya. Istri dan ketiga anaknya, bersimbah darah, tak bernyawa. Tergeletak di ranjangnya.

Di meja kerjanya, jenglot yang semalam dibuangnya tampak tergeletak di situ. Mulut dan taringnya meneteskan darah segar.

“Tidaaaaaaaaakkkkkk !!!”

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s