Home » kekisah » Amnesia

Amnesia


“Bukk…!!”.

 Hanya suara itu yang kuingat.  Sebuah benda keras menghajar telak kepalaku. Dan pun aku tak ingat apa-apa lagi. Semua terhapus, bahkan namaku sendiri aku lupa. Amnesia.

Aku terkesiap, saat anjing kampung itu mengendus-endus kepalaku. Entah bagaimana ceritanya kepalaku terjebak dalam karung ini, bersama potong-potongan tubuhku yang lain. Masih kurang lengkap sepertinya. Ada bagian tubuhku yang berpisah.

Penemuan karung berisi tubuhku tadi menggemparkan. Semua koran menjadikan kasusku ini headline. Begitu juga televisi. Di semua acara, kasusku diperbincangkan. “Sesosok Mayat Ditemukan Terpotong-potong”, begitu rata-rata judulnya.

Aku selalu mengikuti kasusku ini setiap hari. Hari ini aku mencari Informasi di laboratorium forensik. Polisi dan dokter mengumpulkan bukti-bukti. Merangkai-rangkai potongan tubuhku, meneliti sidik jari yang sudah tak utuh lagi, dan bukti-bukti lainnya.  Polisi tampak kebingungan memecahkan kasus ini. Pembunuhku adalah seorang yang professional dan rapi. Semua bukti hilang. Aku penasaran.

Sketsa wajahku menempel di seluruh kota. Wajah yang aku sendiri tak mengenali. Beda jauh dengan wajah yang selalu kulihat setiap pagi di cermin. Aku tak yakin ada yang bisa mengenali wajah itu.

Lain hari, polisi menemukan lagi karung berisi potongan tubuhku yang lain. Lengkap sudah. Tubuhku terurai di meja forensik.  Potong-potongan itu akhirnya terangkai sempurna. Tapi polisi masih belum bisa memecahkan, jenazah siapa ini. Aku pun tak bisa membantu karena aku pun lupa siapa aku.

Setelah sebulan kasusku tak selesai juga, polisi akhirnya memutuskan untuk memakamkan aku di pekuburan umum. Tanpa didampingi keluargaku. Kasusku ini pun dipetieskan. Kasus yang terus menjadi misteri. Aku masih penasaran. Siapa aku, kenapa aku dibunuh dan siapa pembunuhku ?

Tak lama setelah tanah merah membenamkanku, aku melihat dua sosok bayangan hitam menghampiriku. Mereka membawa gada dan bertampang bengis. Dengan kasar dia berteriak.

“Siapa Tuhanmu ?”

Aku bingung hendak menjawab apa. Jangankan siapa Tuhanku, siapa aku saja aku lupa. Amnesia, lupa permanen mungkin itu istilahnya.

“Aku lupa, Pak”.

“Brukkk !!”, gada itu memukul dahsyat kepalaku. Amnesiaku bertambah akut. Kemarin aku penasaran siapa aku dan pembunuhku, kini aku semakin penasaran dengan sebuah pertanyaan baru.

Siapa Tuhanku ?

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s