Home » kekisah » Tembok Berdarah

Tembok Berdarah


*

Pagi belum mengumpulkan seluruh nyawanya, saat Diah berteriak.

“Mas, ada darah di tembok !!”.

Sebercak darah tampak di tembok. Masih segar.

“Mungkin darah nyamuk”, kata Doni, laki-laki yang baru setahun menjadi suaminya. Sambil membetulkan selimut, Doni pun kembali lelap.

**

“Mas, aku telat 2 minggu”, kata Sekar kepada laki-laki bercambang itu.

“Kamu yakin itu anakku”, kata Doni.

“Bukankah setiap kali bercinta, kita selalu membuangnya di luar. Bahkan aku selalu memakai kondom ?”.

Sekar tak dapat menahan air matanya.

“Aku tak pernah melakukannya selain denganmu Mas, sumpah demi Tuhan !!”.

Doni segera mendekatinya, dan memeluk dengan lembut. “Aku akan bertanggung jawab, Sayang”

***

Rona merah meraupi wajah Diah, selepas dari toilet. Ini akan jadi kejutan yang manis buat Doni, yang sudah 2 hari dinas keluar kota, pikirnya. Sebilah testpack digenggamnya. Positif, dia hamil. Setelah menikah 1 tahun, akhirnya perutnya berisi. Dia bergegas ke kamar.

“Aaaaa…!!”.

Betapa terkejutnya dia. Di cermin hiasnya terdapat goresan darah membentuk tulisan.

“Tolong !”

Diah bergegas menelepon Doni, namunnya nada jawab dari mesin yang terdengar. Dia di luar jangkauan area.

****

“Kapan kamu akan melamarku ?”, rengek Sekar kepada Doni. “Perut ini sudah tidak bisa lagi ditutupi, Mas”.

Doni yang sedang kusut nampak seperti cucian kotor di pojok kamar.

“Sabar, Sekar. Menikah itu bukan urusan gampang. Semua harus dipersiapkan, dan rasanya aku belum siap. Bagaimana kalau kita gugurkan janin sialan di perutmu itu”.

“Mas, bagaimana pun bayi ini tidak berdosa, aku tak mau menggugurkannya”, kata Sekar sambil bergegas pergi.

*****

Malam masih tersungkur dalam dengkur, saat Diah terbangun. Dia mendengar suara tangis wanita dan bayi. Dekat sekali dengan telinganya. Bulu-bulu ditengkuknya meremang.

Suara itu semakin terdengar jelas, penuh iba. Perlahan Diah turun dari ranjangnya, mencari sumber suara itu. Suara itu muncul dari bawah ranjangnya. Dengan gemetar dia melongok ke bawah. Tak ada sesiap, namun suara tangis itu berhenti. Hanya ada bercak darah bertulis “bongkar”.

Diah semakin ketakutan, dia mulai menggeser ranjang, untuk melihat lebih jelas tulisan tersebut. Dia meraba lantai tepat di bawah ranjangnya. Ada yang aneh, seperti pernah diganti keramiknya. Akhirnya dia menghubungi Polisi.

******

Sekar tak sabar lagi, kali ini dia benar-benar memaksa Doni agar segera mengawininya.

“Kalau kau tak mau segera bertanggung, jawab aku akan laporkan polisi. Aib ini akan aku bongkar sekalian. Ayah ibuku mulai curiga, Mas”

“Sabar dong, aku sedang pusing. Kerjaanku berantakan semua gara-gara kamu”

“Gara-gara aku ?. Mas, kalau dulu kamu nggak memaksa aku, aku tak akan melakukannya”. Sergah Sekar tak kalah sengitinya.

“Bukankah saat itu kita sama-sama mau ?”

“Dasar laki-laki”, Sekar menampar pipi Doni. “Plaak !!”.

Doni yang mulai gelap mata, membalasnya. Dia menjambak rambut Sekar, dan membenturkannya ke tembok. Lebih dari sekali. Darah membasahi tembok. Sekar tampak terkulai tak berdaya. Nafasnya tercerabut.

Dalam kepanikan Doni mulai berpikir kemana dia akan membuang mayat Sekar. Akhirnya di membuat lobang di lantai. Dan menanam Sekar beserta anaknya di sana.

*******

Sudah seminggu, Polisi mencari di mana Doni. Polisi telah membongkar lantai di rumah Diah dan telah mememukan kerangka Sekar.

Di pagi yang masih rabun. Polisi menggerebeg sebuah rumah kontrakan. Doni berhasil diringkus. Di kamar itu ditemukan 5 kantong plastik. Diah terpotong-potong di sana

Jakarta, 15-16 Maret 2011

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s