Home » kekisah » Lidah dalam Toples

Lidah dalam Toples


Ningsih terduduk di ruang tamu yang pengap. Sudah seminggu rumahnya tak terurus. Laba-laba mulai mengembangkan kompleks rumahnya. Air mata Ningsih pelan bergulir dari matanya yang cekung. Rambutnya awut-awutan, tampak ruam merah di sekitar lehernya.

Sesobek kertas tampak menyembul dari tangannya. Sebuah pesan yang meremukkan hatinya. Semburat sesal terlihat dari matanya. “Seandainya, dulu…”, batinnya.

Suaminya, Tarjo, tak tahu ada di mana. Laki-laki itu telah pergi entah kemana. Sehari-hari Ningsih memang tidak bisa menjaga lidahnya. Suaminya, seorang pegawai rendahan dengan penghasilan pas-pasan, selalu menjadi bahan irisan lidahnya. Hingga kejadian seminggu yang lalu. Pertengkaran yang memuncak, hingga berujung kata “Ceraikan aku, Tarjo”.

Perlahan dia buka lagi kertas lusuh itu. “Sayang, mulai hari ini kamu boleh ngomel sepuasmu. Tapi ditulis aja ya”. Air matanya kembali menyembur dari rongga matanya. Sebuah buku dan pena yang tersedia di meja tamu dia sobek-sobek, kemudian dia campakkan.

Matanya kembali tertuju ke atas bufet, tempat televisi menyiarkan kebohongan. Sebuah toples kaca tampak berkilat diterpa sinar matahari. Air di dalamnya bekilat, bergoyang sedikit. Lidah yang masih merah tampak di sana. Lidah Ningsih.

“Aaaarhhhhhhhh….”, lolongan Ningsih kembali terdengar, menyayat kalbu

(Diangkat dari Fiksimini pertamaku)

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s