Home » kekisah » Namaku Sonya

Namaku Sonya


Kini
Sudah lebih 5 tahun aku terkurung dalam ruang sempit ini. Tak ada cahaya, tak ada kawan dan tak ada makanan. Ruang ini sebenarnya adalah ruang interograsi. Sosok-sosok hitam bergada, bolak-balik menghujaniku dengan pertanyaan sederhana, yang sayangnya begitu susah kujawab. Setiap kali aku salah jawab, gada bergerigi itu selalu meremukkan kepalaku. Aku hanya bisa menjerit, ketika cairan putih dan merah bercampur serpihan tengkorakku meleleh membasahi dadaku. Dan sial tak lama kemudian kepalaku utuh lagi, tak kurang apapun. Dan sosok-sosok hitam itu kembali menginterograsiku dan meremukkan kepalaku, kemudian utuh lagi dan begitu seterusnya.
Dan hari ini, tampaknya mereka sedang istirahat. Tiba-tiba, kurasakan ada hawa masuk ke ruangan ini, yang memanggil dan menarik aku keluar dari ruangan bangsat ini.

Lima Tahun yang Lalu.
Aku sesenggukan di dalam kamar, yang sengaja ku matikan lampunya. Peristiwa itu sungguh membuat aku malu, juga keluargaku. Sepucuk surat dari sekolah kuremas-remas hingga tak berbentuk lagi. Aku tak lulus ujian nasional.
Seminggu sebelum ujian nasional, 5 orang pemuda yang juga teman-temanku menggagahiku. Aku tak kuasa melawan, minuman laknat itu telah meracuni otakku. Begitu sadar, aku tergelar di tepi empang dengan busana tak utuh. Kurasakan perih sangat di antara pangkal pahaku. Hatiku hancur bukan kepalang, tapi aku pendam rahasia ini, karena bagaimana pun aku harus ikut ujian nasional.
Sebulan setelah peristiwa itu aku terlambat bulan dan bertepatan dengan pengumuman hasil ujian nasional. Dan hari ini, aku harus mengakhir semuanya. Sebotol obat serangga kutenggak tanpa sisa.

Dua Tahun Sebelum Kematianku
Aku, Rina, Heni, dan Siska gemetar di kelas yang telah kosong. Rina tampak komat-kamit, sementara Heni memegang jelangkung. Siska menyalakan kemenyan. “Datang tak dijemput, pulang tak diantar”. Berulang mantra itu kami lafalkan, tanpa henti.
Hingga tiba-tiba boneka itu bergetar hebat. Sesaat kami pucat. “Dia datang, Sonya coba kau tanya dia”, bisik Rina kepadaku. Kuraih spidol dan kutuliskan “Siapa kamu ?”. Jelangkung sejenak bergetar pelan. Tangannya mulai bergerak, dan dengan susah payah dia coba tuliskan sesuatu. “Sonya”. Kami terhenyak, aku rasakan kamar bertambah gelap, dan aku tak ingat apa-apa lagi.

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s