Home » pikiran » Squatting

Squatting


Pernah nonton film Korea yang judulnya 3-Iron ?. Film yang didalangi oleh Kim Ki Duk dan dibintangi oleh Lee Seung-Yeon, Jae Hee dan Kwok Hyeok-Ho ini adalah film yang pelit dialog. Ceritanya tentang seorang cowok yang hobbynya tinggal di rumah kosong yang ditinggal pergi penghuninya. Metode survey mencari rumah kosong dilakukan dengan menyebarkan selebarn iklan di pintu rumah, apabila sampai malam selebaran itu masih nempel digagang pintu, maka rumah itu pasti kosong. Dan dengan bermodalkan kunci palsu ala Mac Gyver dia bisa masuk ke rumah tersebut dan tinggal beberapa hari. Untuk selanjutnya tonton aja lewat DVD yang sudah berserakkan di Pasar Glodok, surganya para pembajak dan pecinta DVD bajakan. Kalau gak malu boleh juga pinjam ke aku. He…he…he

Hampir sebangun dan sejenis dengan cerita film di atas, aku jadi teringat cerita adikku yang ada di London yang aku baca dari email yang di forward dari email istriku. Dia cerita kalau dia pernah menemukan rumah kosong. Busyet…nemu kok rumah ya?. Biasanya adalah rumah yang sudah ditinggal mati oleh pemiliknya yang tidak punya ahli waris dan dibiarkan kosong dalam waktu lama.

Istilahnya adalah squatting, nah kalau orangnya dinamakan squater. Adikku dan suaminya pernah menjadi squater 2 kali. Dan hebatnya di sana, squatting itu legal. Bahkan polisi pun tidak bisa mengusir, harus lewat pengadilan. Bahkan pemiliknya tidak bisa masuk ke rumahnya sendiri karena bisa dianggap sebagai pencurian. Dia harus bisa menunjukkan bukti-bukti kepemilikan atas rumah tersebut. Kalau dia ahli waris maka dia harus bisa menunjukkan surat wasiat yang resmi, kalau disini mungkin harus ada akta notarisnya kali. Dan kalau surat wasiat itu hanya ditulis tangan maka harus menunggu surat pengesahan dari pemerintah daerah setempat. Kalau sampai 10 tahun bisa tinggal di rumah kosong itu tanpa ada orang lain yang bisa membuktikan kepemilikan secara sah, maka sang squater itu bisa melakukan klaim bahwa rumah itu adalah miliknya. Adikku lumayan bisa tinggal di rumah itu selama 6 bulan. Hmmm……..ngirit. Hati-hati ya Dik, aku baca emailmu sambil tersenyum sekaligus mengurut dada.

Jadi terbayang kalau hal ini squatting dilegalkan di negara kita. Mungkin bisa menurunkan jumlah tunawisma di Jakarta yang semakin hari semakin sesak oleh gelandangan dan pengemis. Kapan ya bisa nemu rumah…….?.

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s