Home » pikiran » Nasionalisme

Nasionalisme


Dikutip dari buku “Anak Bajang Menggiring Angin” karya Sindhunata yang sedang aku baca, aku temukan dialog antara Patih Prahasta (patih kerajaan Alengka) dengan Kumbakarna. Saat itu Kumbakarna sedang mengamuk karena kematian Wibisana adiknya, oleh Rahwana yang juga adalah kakaknya. Berikut petikannya :

“Kumbakarna, anakku !, Mungkinkah kejahatan itu tiada, sejauh kebaikan masih bertahta ? Kebaikan itu justru akan makin bersinar cemerlang karena adanya kejahatan anakku. Lihatlah, amarah diwangkara seakan membakar habis semuanya, tapi di Tepi Taman Argasoka, setangkai bunga padma mekar dengan indahnya. Dan betapa indahnya bunga padma itu justru karena Alengka sedang hangus oleh amarah diwangkara. Berilah kesempatan bagi kebaikan itu bertahta, jangan kau menghalangi kemekarannya dengan meniadakan kejahatan lawannya. Pada hematmu, Alengka ini tempat kejahatan. Pada hematku, justru di Alengka ini kelak kebaikan akan mekar. Siapa tahu, Nak, Alengka yang jahat ini adalah tempat yang paling baik bagi kebaikan untuk bertahta, meski itu terjadi kelak kemudian ?. Maka jangan kau hancurkan Alengka ini, Nak, karena dengan demikian kau menghancurkan pula kebaikan yang ingin bertahta di atas kejahatan ini. ”

“Itulah, Nak, yang harus menjadi pegangan bagi seorang satria. Dan itu pula yang menjadi alasan mengapa satria harus membela dan memeluk negerinya. Meski negerinya jahat, bukan demi kejahatan itu ia membela negerinya, tapi demi kebaikan yang kelak akan bertahta di atas kejahatan. Mengertikah kau, Kumbakarna ?”

“Paman, tidakkah dengan demikian satria akhirnya juga harus menerima kejahatan negerinya ?”.

“Mengapa kau masih bertanya demikian, Nak ?. Tidakkah sudah kukatakan, seorang satria mau menerima kejahatan negerinya, justru karena ia tahu di sanalah kebaikan akan makin cemerlang bertahta?. Yang terakhir itulah yang harus menjadi kewajibanmu sebagai satria. Kalau kau berbuat demikian, akhirnya kau akan tahu bahwa tak ada negeri yang jahat. Negeri ini berasal dari kebahagian dan kedamaian warganya, atau setidak-tidaknya negeri ini terbentuk karena keinginan warganya yang ingin damai dan bahagia. Nanti kau akan tahu, Nak, kalu negeri ini jahat, bukan negerinya yang jahat, tapi penguasanyalah yang jahat. Maka hidup seorang satria itu memang berat, Nak. Satria itu harus bertapa di pucuk pedang, jadi sebenarnya lebih berat dari pada pendeta yang bertapa di pucuk gunung. Satria itu tahu kejahatan dalam negerinya, tapi toh ia harus mempertahankannya dan mencari kesucian di dalamnya. kalau tidak, ai buka seorang satria, Nak.”

Sejenak aku bertanya, masih adakah nasionalisme dan semangat bela negara pada diriku dan rakyat Indonesia sekarang ini. Jayalah negeri ini…….!!!

( Didedikasikan buat skuad PSSI Piala Asia tahun 2007…….Rela mati demi Merah Putih…!!!! )

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s