Home » kekisah » [Berani Cerita #15] Dia Ingin Hidup Seratus Tahun Lagi

[Berani Cerita #15] Dia Ingin Hidup Seratus Tahun Lagi


Experiencing-Eternity

“Aku ingin hidup seratus tahun lagi.”

Aku hanya menahan gelak, saat Tuan Esteban mengucap kata-kata itu. Bukan sekali ini saja aku mendengarnya, hampir di setiap aku berkunjung di rumahnya, sebelum dia mendongeng buatku dan teman-teman mainku.

“Aku tak mau sepongah seorang penyair yang ingin hidup seribu tahun lagi namun akhirnya mati muda dalam kesendirian,” jawab Tuan Esteban saat kutanya apa sesumbarnya itu tidak terlalu muluk-muluk.

Tuan Esteban hidup sendiri di sebuah rumah mungil dengan pekarangan yang luas di ujung desa. Di pekarangan rumahnya dia menanam berbagai jenis bunga dan tanaman hias. Usia Tuan Esteban sudah lewat tujuh puluh tahun. Ada tanda lahir besar di pipi kirinya, membuatnya sering dipanggil Kakek Tompel. Rambutnya sudah memutih dan botak di sana-sini.  Namun setiap kali bertemu di lain hari, kulihat dia semakin muda. Keriput di dahi dan pipinya tampak memudar. Jalannya juga bertambah tegap. Setiap kali kutanya apa rahasianya, dia selalu menjawab, “Aku ingin hidup seratus tahun lagi.”

“Aku ingin tahu siapa orang tuaku.”

Tuan Esteban menitikkan air matanya. Airmataanya mengalir melintasi kerut-kerut di pipinya yang kian jarang. Uban-uban dan petak-petak di kepalanya mulai berganti dan dipenuhi rambut hitam. Dia sangat ingin tahu siapa ayah dan ibunya. Dari lidahnya meluncur cerita pilunya. Dia tak ingat lagi masa lalunya. Bahkan dia tak tahu sejak kapan mulai tinggal di desa ini. Ceritanya, tiba-tiba saja dia telah terbaring di ranjang kayu di rumah mungil yang kosong dan jauh dari tetangga dalam keadaan tua bangka. Bagai dicampakkan dari alam lain. Pelan-pelan dia menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.

“Hidup itu seperti teka-teki silang, kadang mendatar dan kadang menurun,” dia mulai berfilsafat. “Lalu ketika kita ingin menanjak, maka kematian adalah jalurnya.” Kata-kata yang tak bisa kami pahami.

“Ayo lanjutkan dongengnya, Kek!” rengek kami yang tak sabar menunggu dongeng terbaru darinya.

“Baiklah,” katanya sambil menyeka air mata di pipinya, lalu mulai mendongeng tentang bocah yang tak pernah menua.

Waktu kemudian menggulung lembar-lembar cerita ini. Aku meninggalkan desa ini untuk bersekolah di kota.  Selepas sekolah dan kuliah aku pindah dan bekerja di Santiago, sekitar 2200 km dari desa kecilku di Coyhaique di Chile bagian selatan. Kabar tentang Tuan Esteban tak lagi terdengar. Umurku kini 75 tahun dan  badanku mulai sakit-sakitan. Di usia tuaku ini baru 3 tahun lalu aku bertemu dengan Manuela. Istriku, yang masih berusia 30 tahun. Aku sedang menanti anak pertama lahir. Malam ini Manuela harus menjalani Operasi Cesar karena posisi bayi yang sungsang dan kondisi Manuela yang agak lemah. Aku menunggu persalinan dengan jantung yang berdegup lebih kencang tak seperti biasanya.

Nafasku mengalir lega saat kudengar suara tangis kencang dari kamar operasi. Setelah menunggu beberapa saat, dokter memanggilku masuk ke ruang bersalin. Jantungku kembali berdegup kencang. Kulihat Manuela masih terbaring lemah. Di sampingnya kulihat bayi mungil yang masih merah merengek-rengek minta susu. Darah dagingku. Ada tanda lahir di pipi kirinya.

“Tuan Esteban,” cetusku tanpa sadar.

Dia tak perlu hidup seratus tahun lagi untuk tahu siapa orang tuanya.

——

473 kata

Ilustrasi diambil dari sini

Terinspirasi dari film The Curious Case of Benjamin Button

 

About these ads

32 thoughts on “[Berani Cerita #15] Dia Ingin Hidup Seratus Tahun Lagi

  1. Hae kakek, bagus banget ini. Twistnya pas, gak berlebihan, meskipun ada sedikit ganjalan… esteban mendongeng apa? Kenapa gak dicuplikkan sedikit saja? Tapi di paragraf akhir, aku sukses merinding. Salut, kek, sama produktivitasnya. *angkat topi *sruput bir

    • saya juga gak nonton filmnya sampai selesai (karena membosankan…) jadi saya nangkepnya bukan reinkarnasi….hehhe

      Makasih ya sudah baca

  2. saya bingung. jika esteban ‘tua’ hidup di suatu desa, lalu lahir lagi esteban ‘muda’, artinya ada dua esteban?

    • Gak usah bingung Ga, namanya jg fiksi. Cerita ini terinspirasi film Benjamin Button, orang yg terlahir tua dan umurnya semakin hari semakin muda. Agak tak masuk akal sih. Tapi katanya itu terjadi di dunia nyata.

Jejejak

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s